Jumat, 30 Agustus 2013

Materi  Khutbah Idul Fitri 1434 H/2013 M. di masjid Al mubarok Kaweron Talun Blitar  Kamis 08 Agustus 2013.
Oleh : Drs. H. Sudono Al-Qudsi,  M.H.

ZAMAN INI SUDAH BERAKHIR 

                                                  x 9الله اكبر الله اكبر الله اكبر
لااله إلاالله والله اكبر, الله اكبر ولله الحمد. الله اكبر كبيرا والحد لله كثيرا وسـبحـن الله بكرة واصيلا لااله إلا لله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون, ولوكره منافقون, ولوكره كافرون. لا اله إلا الله صدق وعده ونصرعـبده واعز جنده وهزم الأحـزاب وحده.
  لا إله إلا الله والله اكـبـر. الله اكبر ولله الحمد.
الحمد لله, الحمد لله الذي امرنا بالصيام كما امر على الذين من قبلنا لعلنا من المتقين.
اشهد ان لا اله إلا الله وحده لا شريـك له الحق المبـين.   واشهد ان محمداعـبده ورسوله صادق الوعـد الاميـن.
اللهم فصل وسلم وبارك على هذالنـبي الكريم وعلى أله واصحابه ومن تبعه الى يوم الدين. اما بعده............. فـياايهاالحضرون. اتقوالله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون. قال الله تعالى فى القرآن الكريم. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم.  بسم الله الرحمن الرحيم :  قد افلح من تزكى وزكرسم ربه فصلى.
 صدق الله العظيم 
الله اكبر3×  ولله الحمد.
            Dalam suasana yang berbahagia ini, marilah kita panjatkan puji dan  syukur kehadirat Allah Swt. Tuhan yang Maha Agung dan Maha Kuasa. Dengan siraman rahmat dan karunia-Nya kita dapat menyambut dan merayakan hari yang agung ini, hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, dengan tertib, aman dan lancar.         
الله اكبر3×  ولله
            Sejak matahari terbenam kemaren sore sampai pagi hari ini Gema Takbir, Tahmid, Tasbihdan Tahlil membahana memenuhi jagad raya ini diucapkan dengan khusyuk dan khidmat oleh segenap kaum Muslimin merupakan wujud nyata dari rasa syukur dan ridho kehadirat Allah Swt. Ridho memenuhi panggilan Allah dalam melaksanakan Ibadah Shaum dan menyatakan rasa syukur atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kekuatan dalam menuntaskan ibadah Shaum itu sendiri.
           Di samping itu juga merupakan pengakuan bahwa Yang Maha Agung hanyalah Allah, selain Allah adalah kecil, tidak ada yang lebih unggul, termasuk manusia yang hidup di alam raya ini. Walaupun manusia diberi kekuasaan, kekuasaannya itu hanya bersifat sementara dan temporer. Manusia diberi harta kekayaan yang berlimpah, tetapi kekayaan itu sendiri bersifat Fana, sekarang kaya, mungking esok atau lusa jatuh miskin, sekarang sehat dan kuat, esok atau lusa bisa jadi sakit dan akhirnya melemah termakan usia ketuaan. Tidak ada tempat bagi manusia untuk membanggakan dan menyombongkan diri, oleh sebab itu, marilah kita renungkan lebih jauh, semua itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan ke-Agungan Allah Swt. yang Maha menentukan segala sesuatu yang ada di alam raya ini. Hanya Allah Yang Maha Gagah dan Perkasa.            
الله اكبر3×  ولله الحمد.
            Kita berkumpul di tempat yang terhormat ini guna merayakan hari kemenangan kita, kemenangan Jihad atau perjuangan serta mengendalikan hawa nafsu yang sering mengganggu dan merusak jiwa. Memerangi hawa nafsu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan ringan, bahkan sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah Saw. merupakan tugas yang amat sangat berat. Tatkala Rasulullah beserta para sahabat kembali dari perang Hudain yang besar itu beliau bersabda :
        رجعنا من الجهاد الاصغر الى الجهاد الأكبر
"Sekarang kita pulang dari perang yang kecil menuju perang yang besar"
Para sahabat bertanya "Apakah setelah ini akan ada perang yang lebih besar ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab : "Ya"
Para sahabat bertanya lagi "Apakah perang yang besar itu ya Rasulullah?"
Rasulullah menjawab : الجهاد النـفس "Jihad memerangi hawa nafsu".
الله اكبر3×  ولله الحمد.
Hadirin Rahimakumullah!
Sejarah telah membuktikan bahwa jatuhnya suatu kaum atau suatu bangsa dan negara berpangkal pada ketidakmampuan warganya dalam mengendalikan hawa nafsu, baik rakyat maupun pemimpinnya. Apalagi saat ini kita sudah berada di akhir zaman, di mana manusia hanya memperturutkan hawa nafsu, karena itu Allah pasti murka! Inilah yang akan saya sampaikan  pada khutbah Idul Futri tahun 1434 Hijriyah  ini dengan judul : ZAMAN INI SUDAH BERAKHIR.
 Rasulullah saw. bersabda :
اذاكان آخر الزمان يرفع الله من الأرض اربعة اشياء :
الأول : يرفع الله البركة من الأرض
الثانى : يرفع الله الرحمن من القلوب
الثالث : يرفع الله العدل من الحكام
الربع  : يرفع الله الحياء من النساء

"Apabila telah datang akhir zaman nanti, Allah akan mengangkat empat perkara dari permukaan bumi :
1.     Allah mengangkat keberkatan dari bumi
2.     Allah mengangkat rasa kasih sayang dari hati manusia
3.     Allah mengangkat rasa adil dari para hakim
4.     Allah mengangkat rasa malu dari kaum wanita.
Hadirin Rahimakumullah! Apa maksud hadits ini?
Apabila telah datang akhir zaman nanti, Allah akan mengangkat keberkatan dari bumi. Karena nafsu yang selalu diperturutkan, manusia jadi melupakan tuntunan dan tuntutan Allah, manusia dalam mencari nafkah sudah banyak yang menghalalkan segala cara, hidup dalam riba. Betapa banyaknya sekarang Bank-Bank berjalan, Rentenir! Meraja rela. Menimbang dan menyukat dengan kebohongan, berdagang ala kapitalis, yang kaya menindas yang miskin, hak si miskin tidak diberikan, pada hal :
          انـّما تنصرون و ترزقون بضعفآء كم
"Sesungguhnya kalian beroleh kemenangan dan rezki hanya karena dukungan kaum du'afa, kaum yang lemah diantara kalian"
Namun kenyataan yang kita temui saat banyak manusia jadi SERAKAH, enggan  membantu yang lemah, Allah menghukum dengan rezki yang banyak terasa sedikit. Itu pertanda bahwa KEBERKATAN DARI REZKI itu, telah DICABUT.
الله اكبر3×  ولله الحمد.
Apabila telah datang akhir zaman nanti, Allah akan mengangkat rasa kasih sayang dari hati manusia. Kita menyaksikan, bahkan kita merasakan betapa banyaknya manusia sekarang menjadi beringas, tak mengenal pri kemanusiaan, bahkan kejam dari pada srigala, manusia memakan sesama, manusia saling membunuh, anak membunuh ayah, ayah memperkosa anak, cucu membunuh nenek, mamak membunuh kemenakan, bahkan setelah itu mayatnya juga dipotong-potong menjadi beberapa bagian atau multilasi yang kadangkala hanya disebabkan hal sepele yang bersumber dari hawa nafsu yang tak terkendali.  Ini pertanda RASA KASIH SAYANG dari hati manusia telah di cabut oleh Allah.
Rasulullah menyatakan : "Sayangilah seluruh makhluk di muka bumi, niscaya kamu juga disayangi oleh makhluk-makhluk yang di langit"

Apabila telah datang akhir zaman nanti, Allah akan mengangkat rasa adil dari para hakim/para penegak hukum .  Rasulullah menyatakan dengan tegas : Apabila telah datang akhir zaman itu nanti, Allah akan mengangkat rasa adil dari para penegak hukum ( hakimk polisi, jaksa pengacara ) . Kaum Muslimin/Muslimat Rahimakumullah, Bagaimana hukum bisa ditegakkan jika penegak hukum itu sendiri melanggar hukum, Bagaimana keadilan dapat kita rasakan jika penegak keadilan itu sendiri tidak berlaku adil. Sementara Allah Swt. berfirman :
        انّ الله يأمر بالعدل و الإحسان
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan"
            Namun karena keserakahan dan hawa nafsu juga, banyak penegak hukum yang memperjualbelikan keadilan, banyak kita dengar Hakim yang di Hakimi. Hal Ini merupakan indikasi bahwa yang punya uang saja sulit mencari keadilan, apalagi si miskin yang tak punya apa-apa. Dalam hidup bermasyarakat juga demikian kita temukan, pemimpin tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, kebanyakan memperkaya diri, mementingkan kepentingan golongan, mengumbar janji dikala akan dipilih, menjadi pongah dan sombong kepada rakyatnya setelah menduduki jabatan. Ini bukti RASA ADIL DARI PARA HAKIM dan PEMIMPIN di akhir zaman ini telah dicabut juga oleh Allah Swt.
الله اكبر3×  ولله الحمد.
           Di dalam kitab Madzahib fît Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adsalah naluri Syahwat.
          Hujjatul Islam, Abû Hâmid al-Ghazâlî berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan. Pertama, sifat kebinatangan (بَهِيْمَةْ); tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, sifat buas (سَبُعِيَّةْ) ; tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar. ketiga sifat syaithaniyah; tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia.
           Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan social (keadaan masyarakat) yang sangat mengkhawatirkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan Dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya    dan seterusnya.
           Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah (رُبُوْبِيَّةْ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan. Orang yang dapat mengoptimalkan dengan baik sifat rububiyah di dalam jiwanya niscaya jalan hidupnya disinari oleh cahaya Al-Qur'an, prilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah). Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadhan, yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya ini menampakkan tiga hal sebagai pakaiannya: menahan diri dari hawa nafsu, memberi ma`af dan berbuat baik pada sesama manusia sebagaimana firman Allah:

وَاْلكَاظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَاْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ
"…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS Ali Imran: 134)
           Rasulullah bersabda : "Wanita adalah tiang Negara, apabila baik wanitanya, maka baiklah bangsa itu, apabila wanitanya tak baik, maka hancurlah bangsa itu" Kenyataan yang kita temui sekarang betapa banyaknya wanita-wanita kita yang sudah tak menghiraukan lagi sendi-sendi agama, baik cara bergaul, cara bicara, cara bertingkah, maupun cara berpakaian tidak sesuai lagi dengan tuntunan Islam. Wanita kita sekarang banyak yang enggan menutup aurat, menyerupai pakaian laki-laki dengan berbagai alasan, ingin tampil menarik, ingin tetap awet muda, sementara wanita yang menutup dianggapnya kampungan dan tak modis. Kalau demikian adanya. tak salah dan wajar banyak terjadi pemerkosaan dan pelecehan sexual, karena telah dipancing-pancing dengan mempertontonkan bentuk tubuh, membuka aurat di tempat-tempat umum. Apabila wanita sudah tidak punya rasa malu, maka berbagai kejahatan akan menimpanya. Namun sebaliknya banyak juga kaum laki-laki saat ini suka menyerupai wanita, pakai anting, pakai kalung, pakai gelang. Rasulullah bersabda :
قال انس : لعن رسول الله ص.م المتسبّهـين من الرجال بالنساء والمتسبهات من النساء بالرجال. – روه احمد و البخارى-
"Telah berkata Anas : Rasulullah Saw. pernah melaknat laki-laki yang menyerupai diri sebagai wanita dan wanita-wanita yang menyerupai diri sebagai laki-laki." (Hadits Riwayat Ahmad dan Bukhari)
Hadirin yang berbahagia, kenapa semua itu terjadi? Lain tak bukan juga bersumber dari hawa nafsu yang tak terkontrol, ALLAH MENGANGKAT RASA MALU itu sendiri.
Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah!
Kalau sudah demikian adanya, apa yang harus kita lakukan? Tak lain tak bukan adalah :
1.     Tingkatkan Keimanan
2.     Tingkatkan Ketaqwaan
3.     Mendidik anak-anak kita sejak dini, supaya mereka menjadi generasi yang beriman dan bertaqwa SWT.
 Karena Allah berfirman :
ولو انّ اهل القرا آمنو والتـقوا لفتحـنا عليهم بركاة من السماء والارض. ولكن كذ بوا فآخـذ ناهم  بماكانو يـكـسـبون.
"Jikalau penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, niscaya kami turunkan keberkatan dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami azab mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri" (Q.S.al-A'raf : 96)
          Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa, jika kita beriman dan bertaqwa, Allah memberi imbalan dengan memberi keberkatan dan kenikmatan, sebaliknya jika kita kufur dan ingkar Allah juga membalasnya dengan azab di dunia wal akhirah.
الله اكبر3×  ولله الحمد.
         Tentang hal tersebut Rasulullah Saw. juga pernah bersabda bahwa : Apabila manusia telah lupa kepada Allah, tidak beriman dan bertaqwa, maka Allah akan memberi tiga macam azab :
1.     Dicabut keberkatan Rezki
2.     Diberi pemimpin yang zalim
3.     Dicabut Iman waktu Sakaratul Maut. Na'uzubillahi minzalik.
          Semoga berkat Ibadah puasa yang telah kita laksanakan satu bulan penuh kemarin, kita makin mampu untuk mengendalikan hawa nafsu pada bulan-bulan lain dan lebih banyak mengingat Allah dalam keadaan tegak, duduk dan berbaring serta lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sesuai dengan tujuan puasa itu sediri, sehingga dengan itu kita terhindar dari malapetaka dan azab Allah, semoga kita menjadi insan kamil, sehingga tercipta masyarakat yang madani. Amien ya Rabbal'alamien.
Demikianlah Khutbah kita kali ini, semoga ada manfa'atnya, Wal'afu mingkum.

فاعـتـبر يااول الا بصار لعلكم ترحمون.
الله اكبر3×  ولله الحمد.











Selasa, 23 Juli 2013



Seorang ulama besar Imam Al Ghozali , menyatakan dan mengingatkan kepada seluruh manusia agar hati-hati terhadap 9 hal yang senantiasa melekat pada diri manusia , karenanya hati-hatilah terhadapnya .yaitu  : 

         Yang singkat itu adalah waktu
              Yang menipu itu adalah dunia
       Yang dekat itu adalah kematian
       Yang besar itu adalah hawa nafsu
       Yang berat itu adalah amanah
       Yang sulit itu adalah ikhlas
       Yang mudah itu adalah berbuat dosa
              Yang susah itu adalah bersabar
       Yang sering lupa adalah bersyukur


      الايثار ( al   I S A R )

            Oleh : Drs. H. Sudono Al-Qudsi,  M.H.

             Al Isar adalah  : Taqdimul ghoiri   ‘anin nafsi atau memprioritaskan  kepentingan orang lain dengan mengalahkan kepentingan pribadi.  Allah SWT. sangat memuji terhadap orang-orang yang mempunyai sifat iisar , bahkan telah disinggung dalam FirmanNya surah Al Hasr ayat 9  yang artinya :  Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman ( Anshor ) sebelum ( kedatangan ) mereka ( Muhajirin ) , mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan  kepada mereka  ( Muhajirin ). Dan mereka mengutamakan ( orang-orang Muhajirin ), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
             Berdasarkan ayat diatas,  ternyata iisar telah pernah dilakukan   oleh para sahabat Nabi yang gugur ikut dalam berbagai peperangan dan mengalami kesusahan hidupnya terutama saat-saat membutuhkan pertolongan dalam mempertahankan kehidupannya menjelang kematian,  mereka cukup menjadi contoh teladan bagi umat manusia agar mempunyai sifat iisar .  Oleh karena itu para Ulama’ pun membagi iisar dalam beberapa macam yaitu :
ايثار في الطعا م  1    ,   yaitu mengalah dalam soal makanan . Akhir-akhir ini persoalan makanan sangat sensitif terutama sewaktu ada pembagian jatah yang seharusnya diterima oleh orang yang benar-benar miskin , ada yang antri , berdesa-desakan sampai ada yang meninggal dunia dan seharusnya bagi yang telah berkecukupan  agar mempunyai sifat iisar tersebut tanpa mengharap bantuan dari siapapun kecuali kepada Allah SWT.
                 Diceritakan dalam kitab Al majalisus Saniyah  ( syarah kitab Hadis Arbain Nawawiyah )  hal. 38 – 39 , yang menyatakan bahwa  : ada seorang sahabat Nabi SAW.  yang diberi hadiah berupa masakan gule kepala kambing , lalu seorang sahabat nabi tersebut mengatakan kepada orang yang memberi hadiah  : ada saudaraku dan keluarganya yang lebih membutuhkan masakan ini dari pada saya dan keluarga saya , silahkan  kepala kambing ini berikan kepada tetanggaku sebelah orang tersebut yang lebih membutuhkannya, Lalu diberikan kepada tetangganya yang lebih membutuhkan, tetapi tetangganya juga menjawab seperti jawaban tetangganya yang diberi pertama tadi, sampai-sampai berpindah-pindah tujuh rumah, dan akhirnya kepala kambing tersebut kembali kepada rumah yang pertama tadi.  Kenapa masing-masing tidak mau menerima masakan gule  kepala kambing   ?   karena masing-masing merasa masih bisa bertahan hidup dari pada tetangga sebelahnya, demikian seterusnya , tetangga sebelahnya juga masih merasa bisa bertahan hidup dan pada saat itu mereka teringat ayat al Hasr ayat 9  yaitu ,  
ويؤثرون علي انفسهم  ولو كان بهم خصاصة  - -   ,  artinya : Dan mereka mengutamakan     ( orang-orang Muhajirin ), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.
                Sebagian pendapat mengatakan ayat diatas turun ketika ada tamu untuk menemui Nabi , diajaklah tamu itu ke rumah Nabi , ternyata menurut Siti Aiyah dirumah tidak ada persiapan apapun kecuali seteguk air putih.  Lalu Nabi menemui para Sahabatnya dan mengatakan : Barang siapa yang menjamu tamuku di malam ini maka ia berhak masuk surga . ternyata ada salah seorang sahabat Nabi yang bersedia menjamu tamu tersebut, ia lalu pulang menemui istrinya dan mengatakan kepada istrinya : ini ada tamu Nabi tolong agar dihormati dengan  jamuan makan malam   . lalu  jawab istrinya : aduh bagaimana kita tak punya apa-apa kecuali hanya  semangkok bubur  untuk persiapan anak kita yang masih tidur. Gak apa-apa nanti kita bersandiwara saja  , kita seakan-akan kenyang  , kita siapkan piring dan sendoknya , untuk tamu dan kita  berdua . lalu  kita matikan lampu dan seakan-akan kita ikut makan bersama tamunya. Makanpun segera dimulai dan lampupun dimatikan dan setelah makan , sampai-sampai tamunya tertidur pulas . Sandiwara ini berjalan mulus dan ke esokan harinya suami istri tersebut bertemu Nabi , lalu Nabi mengatakan : Semoga Allah memberkahi atas perbuatan kalian berdua semalam .
                 Diceritakan oleh Abdullah ibn Umar , bahwa ia sedang menderita sakit keras, saat itu ia sangat menginginkan ikan laut yang digoreng agar sembuh dari sakitnya. Akhirnya salah seorang jamaahnya berusaha mencarikan  ikan kesukaan Abdullah Ibn Umar, setelah dapat ikan lalu dimasak dan dihidangkan oleh pembantunya kepada Abdullah Ibn Umar. Begitu ikan sudah akan  dimakan ternyata mendadak ada pengemis yang merintih di depan pintu meminta agar ikan goreng diberikan kepada pengemis tersebut. Dan yang terjadi Abdillah Ibn Umar bahkan menyuruh kepada pembantunya untuk menyerahkan ikan kepada pengemis, lalu tentu pembantunya kesal dengan ulah Abdullah Ibn Umar  tersebut, kata pembantunya : cari ikan sulitnya luar biasa , tapi begitu sudah dimasak malah diberikan kepada pengemis , lalu kenapa diberikan kepada pengemis ? karena Abdullah Ibn Umar ingat akan Firman Allah :
لن تنالوا البر حتي تنفقوا مما تحبون       artinya , kamu tidak akan memperoleh kebaikan sebelum kamu mensedekahkan harta  yang paling kamu senangi.       
   ايثار في الشراب 2/ء    ايثار بالما, yaitu mengalah dalam soal minuman.
                  Diceritakan bahwa ada segolongan sahabat seusai perang Yarmuk  mereka mati sayahid. Pada waktu mereka masih syakaratul maut satu persatu mengalami kehausan yang luar biasa , sehingga ada salah seorang sahabat yang masih bisa bertahan ia mempunyai segelas air, lalu diberikan kepada mereka , mulai dari yang paling dekat agar bisa bertahan hidup, tetapi sahabat yang paling dekat tersebut menolak untuk diberi air, dan menyuruhnya untuk diberikan kepada yang lainnya, dengan suara terbata-bata ia mengatakan aku masih sanggup bertahan hidup dan air ini berikan kepada orang sebelahku ini… begitu berjalan seterusnya, dan mereka semuanya tidak mau minum . lalu ditengoklah orang yang pertama menolak  tadi, ternyata satu persatu meninggal dalam keadaan mati syahid.
     ايثار في النفس و الروح  3yaitu mengalah dalam soal jiwa/nyawa. Diceritakan bahwa Sahabat Ali pernah tidur ditempat tidur Rasulullah SAW. untuk menggantikan Nabi yang pada malam itu di kepung oleh orang-orang  kafir yang akan membunuhnya, maka Allah lalu menurunkan wahyu kepada Jibril, dan Mikail  alaihima as salam . Allah menyatakan : kami akan menemanimu dan aku jadikan diantara kalian ada umurnya yang lebih panjang dari lainnya , apa kalian ingin umurnya panjang seperti Ali bin Abi Thalib ? bagaimana kalian mau mengalah untuk menemani tidur Ali bin Abi Tholib  berada di tempat tidur Rasululloh ? ternyata Jibril dan Mikail memilih menjaga Ali bin Abi Tholib  , lalu Allah mewahyukan kepada keduanya agar mengapit Ali, sehingga tidurlah Ali sebagai tebusan dirinya ( mengalah ) bagi kehidupan baginda Rasul , sampai-sampai Ali terjatuh ditanah dan ia terhindar dari musuhnya  yang waktu itu Jibril berada didekat kepala Ali dan  dan Mikail berada di kedua kaki Ali, kemudian Jibril menyeru kepada Ali : beruntunglah kamu wahai Ali yang bersedia mengalah demi kehidupan keselamatan Nabimu. Karena Tuhanmu telah menjagamu melalui kedua Malaikat.
                  Itulah salah satu siasat Nabi dalam menghadapi musuh agar terhindar dari pembunuhan dengan cara memanggil sahabat Ali untuk menjadi bampernya, dan ternyata Nabi juga selamat dalam melakukan perjalanan Hijroh ke Madinah  disambut oleh kaum Anshor dengan meriah. Apapun yang mereka ( kaum Anshor ) miliki dipersembahkan untuk kehidupan kaum muhajirin, mereka dianggap sebagai saudara seiman ,  seagama tanpa memandang suku/kabilah dari manapun asalnya.
4.       ايثار في  الحياة  yaitu, mengalah dalam soal kehidupan .
                 iisar pada dasarnya dapat tumbuh dari kekuatan keyakinan  dan kekuatan mahabbah kepada Allah SWT. serta bersabar dalam segala bentuk kesulitan .
               Disampaikan pada kuliah subuh Ramadhan 1434 H/2013 M di Masjid Al Mubarak Kaweron Talun Blitar.


Selasa, 09 Juli 2013

                                        PERNAHKAH ANDA BERSANDAR ? 


            Sadar atau tidak,  hampir setiap waktu kita bersandar /menyandarkan tubuh kita di kursi, di tempat tidur, di dinding  atau di tempat-tempat lain  , di mana saja yang kita tempati. seorang anak biasanya bersandar pada orang tuanya , Bahkan orang yang sudah sangat tua juga bersandar pada anaknya  terutama  yang lagi kekurangan ekonomi , apalagi anak yang masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk biaya pendidikan dan masa depannya tentu sangat bersandar pada orang tuanya .

            Orang yang bersandar harus mencari sandaran yang kuat , sebab kalau sandarannya rapuh justru akan mencelakakan orang yang sedang bersandar, bisa-bisa jatuh, sakit atau stress bahkan terjadi kematian pada orang yang bersandar.

            Orang yang bersandar seharusnya tahu pada kwalitas sandarannya, apakah sandarannya itu benda mati, atau  berupa manusia , atau lainnya yang tentu sandarannya sudah dianggap cukup kuat untuk bersandar dalam hidupnya. atau sandarannya melekat pada diri mereka sendiri , misalkan saja ; mereka bersandar pada  jabatan yang di milikinya saat ini, padahal sebentar lagi jabatannya akan lepas karena mungkin memasuki masa pensiun, atau bahkan diturunkan  atau dipaksa turun dari jabatannya, sehingga jabatan yang tadinya sebagai tempat bersandar hilang karena memasuki masa bakti yang habis/ pensiun. lalu apa hakikat jabatan sebagai  tempat bersandar kalau tidak dapat menyelamatkannya dari  orang yang bersandar ? ternyata , pangkat , jabatan ,  uang , tidak abadi .dan ternyata tempat bersandar yang abadi hanyalah ALLOH SWT. sedangkan tempat persandaran selainNYA adalah semu belaka. Wa ma al hayatuddunya illa mata'ul ghurur.oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih sandaran . Terimakasih semoga tulisan ini ada manfaatnya amiin. 


Rabu, 16 Januari 2013


SYUKUR,  DO’A,  ISTIGHFAR ,  TAUBAT, DAN SEDEKAH

Banyak orang yang tidak mengerti tentang apa yang akan terjadi esuk, seakan –akan apa yang dikerjakan manusia hari ini, maka hari ini juga kalau bisa hasilnya bisa dinikmati, tetapi tidak demikian halnya dengan apa-apa yang telah dirahasiakanNya untuk keselamatan dan kebaikan manusia Allah telah mempersiapkannya hal-hal yang lebih baik lagi untuk manusia. Karenanya perhatikan sabda Rasulullah SAW. berikut ini :

لايعطي الله لاْحد خمسا الا و قد اعد له خمسا اخرى – لا يعطيه الشكر الا  و قد اعد له الزيادة و لا يعطيه الد عاء  الا و قد اعد  له  الاءيجابة  و لا يعطيه الاءستغفار الا و قد اعد له الغفران  و لا يعطيه التوبة الا و قد اعد له القبول  و لا يعطيه  الصد قة   الا و قد اعد له التقبل  -

Allah tidak menganugrahkan lima hal kepada seseorang melainkan telah mempersiapkan lima hal yang lain : tidak menganugrahkan syukur melainkan telah menyiapkan tambahanNya. 
Tidak menganugrahkan doa melainkan telah menyiapkan kekabulanNya, 
Tidak menganugrahkan istighfar melainkan telah menyiapkan ampunanNya, 
Tidak menganugrahkan taubat melainkan telah menyiapkan penerimaanNya,
dan Tidak menganugrahkan kesediaan bersedekah melainkan telah menyiapkan diterinaNya.

Syukur kepada Allah harus dilakukan sepanjang masa selagi masih hidup  karena Dialah pemberi nikmat yang tiada henti-hentinya, bahkan Allah telah mempersiapkan tambahan kenikmatan sebelum seseorang berbuat syukur, sebagaimana Firman Allah :

لئن شكر تم لاْزيد نكم ولئن كفر  تم ان عذابي لشد يد            
     
Jika kalian bersyukur  niscaya Aku menambah nikmat untuk kalian, tetapi kalau kalian kufur atas nikmatKu sesungguhnya siksaKu sangat pedih.

Tentang tekabulnya doa Allah berfirman :  اد عوني استجب لكم           ,, berdoalah kalian kepadaKu , maka Aku berkenan  mengabulkan doa kalian.

Allah juga telah menyiapkan ampunan sebelum istighfar, hal ini sesuai FirmanNya :
استغفروا ربكم  انه كان غفارا    . bacalah istighfar kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pemberi ampun. Bahkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah, disebutkan : kalau kalian melakukan kesalahan bertumpuk-tumpuk sampai selangit , kemudian bertaubat, maka Allah berkenan meneima taubatmu,

Tentang diterimanya taubat, Nabi bersabda : ada tetulis di sekitar arsy sejak 4.000 tahun sebelum dunia di titahkan, Sesungguhnya Aku Maha Pemberi Ampun bagi orang yang bertaubat  dan beriman serta beramal sholih  kemudian memohon hidayah ( HR Ad Dailami ).

Tentang shodaqoh Nabi bersabda : Setiap manusia di dalam naungan shodaqohnya  sehingga diputuskan di tengah-tengah manusia ( HR. Ahmad ).
Demikian tulisan saya hari ini semoga bermanfaat amiin. Terimakasih.

Selasa, 04 Desember 2012

BEKAL

Bekal adalah sesuatu yang dipersiapkan  buat digunakan dalam perjalanan  ( Kamus Besar Bahasa Indonesia  Gita Media Pess  hal 119 ) . dan jangan lupa sebelum pergi harus disiapkan bekalnya, ketika orang  sedang mendaki gunung ternyata bekal  air habis   , terpaksa orang mencari air ke lembah. bekal juga berarti Simpanan atau sesuatu yang diharapkan dapat digunakan jika di perlukan.

Jika dimasa muda  orang tekun mencari bekal  ilmu, maka dimasa tua tak akan sia-sia , modal untuk memulai usaha itu kita perlu mengumpulkan bekal lebih banyak lagi. banyak ungkapan tentang berbekal, jika hidupmu berbekal amal, maka matimu akan selamat dari siksa Tuhan karena itu lebih baik berbekal ilmu dari pada berbekal harta. Allah SWT. menyuruh manusia untuk menambah sebanyak-banyak dan sebaik-baik  bekal. dan sebaik-baik bekal adalah bekal  Taqwa .orang yang bijaksana tentu akan membekali diri maupun keluarganya dengan sebaik-baik bekal. lalu bekal apa yang telah anda berikan untuk diri dan keluarga anda ?  Untuk berlayar harus cukup bekal, karena hidup ini ibarat orang sedang berlayar mengarungi lautan yang luas dan ombak , badai yang dasyat, sekarang ini sangat dibutuhkan bekal ilmu, skill  , pengalaman,  di berbagai sektor kehidupan , manusia tanpa bekal tak berguna hidupnya, apalagi tak punya bekal taqwa, berbahagialah orang-orang yang banyak bekalnya dalam menghadapi kehidupan ini, wa tazawwadu fa inna khairazzadi at taqwa.  terimakasih.

KHUTBAH WUKUF ARAFAH *)
BERTAUBAT  DAN MENGHARAP AMPUNAN ALLAH
Oleh :  Drs. Sudono Al-Qudsi,  M.H.     
      
الحمد لله رب العا لمين - الذي قال في كتا به الكريم – الحج اشهر معلومات - فمن فرض فيهن فلا رفث ولا فسوق ولا جدا ل في ا لحج - وما تفعلوا من خير يعلمه الله – وتزودوا فان خير الزاد التقوي – واتقون يا ؤلي الاْلباب -  اشهد ان لااله الا الله  وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ - وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي بعد ه - ،  اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اجمعين - أَمَّا بَعْدُ – عباد الله أُوْصِيْكُمْ وَايايْ بِتَقْوَى اللهِ – فقد فاز المتقون -  قال الله تعالي  في كتا به الكريم – واعبد ربك حتي ياْتيك اليقين  - لبيك اللهم لبيك – لبيك لا شر يك لك لبيك – ان الحمد والنعمة لك والملك – لا شريك لك - 
Para tamu Allah, muslimin wal muslimat dhuyuufullah wa dhuyuufurrohmaan…!
Pada hari  yang  penuh rahmat dan maghfiroh ini, marilah kita panjatkan puji syukur yang setulusnya kepada Allah SWT. Yang telah menjadikan hari arofah ini sebagai hari yang teramat mulia.  Sholawat dan salam semoga terlimpah bagi Nabi besar  Muhammad Saw. Yang telah menyampaikan  risalah  Allah  SWT sehingga mengantarkan   umatnya ke jalan yang terang yang diridhohi Allah SWT.
Siang ini kita ditakdirkan oleh Allah berkumpul di tempat yang mulia ini, tempat dimana setiap do’a pasti akan dikabulkan, siapapun yang bertaubat, Allah pasti menerimanya dan mengampuni dosa-dosa kita, sebanyak apapun dosa-dosa itu melumuri tubuh kita.
Hari ini adalah hari yang paling di rindukan, di impi-impikan  oleh seorang muslim agar bisa menyempurnakan keislamannya, hari ini adalah hari yang di idam-idamkan, siang dan malam, oleh  orang-orang yang merindukan bisa bertemu dengan Allah, sesungguhnya pada saat ini Allah membanggakan kita di hadapan para MalaikatNya, Allah berjanji, hari ini dosa-dosa diampuni, dan doa-doa di ijabah, andaikata kita wafat hari ini, insya Allah bagi haji mabrur, tiada balasan dari Allah selain surga. Saat ini adalah saat yang paling tepat masing-masing jamaah dipersilahkan untuk mengkondisikan dirinya berkonsentrasi kepada Allah, melakukan perenungan, ber muhasabah atas dirinya, apa yang telah dilakukan selama hidupnya, merenungi kebesaran dan keagungan Allah melalui Asma’ul HusnaNya dan merenungi  hari akhirat.
Mari kita bentangkan dosa-dosa kita di padang Arofah ini, ingatlah satu-persatu dosa-dosa  yang pernah kita lakukan, ingatlah betapa waktu kita selama ini  habis terbuang sia-sia karena lebih banyak digunakan untuk memperindah kehidupan dunia . hari ini kita harus mengakui dengan sejujur-jujurnya  dan seikhlas-ikhlasnya , tanpa rasa sombong, dihadapan Allah adalah puncak amaliah  haji. Inilah arofah,  wukuf kita ini adalah untuk mendefinisikan hakikat keberadaan kita di hadapan Allah SWT., sekalipun sebenarnya Allah telah mengetahui ini semua.
Hari ini Allah mendekat sedekat-dekatnya  kepada orang-orang yang wukuf di Arofah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan-keluhan hambanya, menatap  dari dekat wajah dan perilaku hamba-hambanya. Disebutkan dalam hadis qudsi  yang artinya : Lihatlah kepada hambaKu di Arofah yang lesu dan berdebu , mereka datang kesini dari penjuru dunia, mereka datang memohon rohmatKu sekalipun mereka tidak melihatKu, mereka minta perlindungan dari adzabKu, sekalipun mereka tidak melihat Aku.  Rasulullah SAW. menyatakan dalam sabdanya : bahwa Allah mendekat kepada orang-orang  yang di Arofah, dengan bangga Allah  bertanya kepada para Malaikat , apa yang diinginkan oleh  orang – orang yang sedang wukuf itu ?
Pada hari ini Allah senang sekali jika kita berdo’a kepadaNya, Ia mengabulkan semua do’a kita disini, sebagaimana Rosulullah bersabda dalam hadis yang lain : bahwa diantara berbagai jenis dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan melakukan wukuf di Arofah      bahkan Allah murka ketika manusia tidak yakin dosanya diampunkan di Arofah,  disebutkan oleh Al khatib dalam kitab  Al Muttafaq  wal Muftaroq , Rasulullah SAW.  menyatakan bahwa “  yang paling besar dosanya diantara manusia adalah seseorang yang berwukuf di Arofah lalu berprasangka bahwa Allah tidak memberinya ampun.
Jama’ah haji yang saya banggakan, demikian agung dan mulianya hari Arofah ini, meskipun wukuf hanya beberapa jam saja, namun sungguh sangat penting berdo’a di Arofah, disaksikan dari dekat oleh Allah SWT. dan dibangga-banggakan Nya kita dihadapan para MalaikatNya.
Hai Malaikat Ku, apa balasan bagi hambaKu ini, ia bertasbih kepadaKu, ia mengagungkanKu, ia mengenaliKu, ia bershalawat kepada NabiKu, wahai para malaikatKu, saksikanlah bahwasanya Aku telah mengampuninya, Aku memberi syafaat kepadanya, jika hambaKu memintanya tentu akan Ku berikan untuk semua yang wukuf di Arofah ini.
Semoga siapapun yang dihadirkan di padang arofah ini tidak terbesit sedikitpun dihatinya kesombongan, sehingga merasa diri lebih baik dari yang lain. Berhajinya kita bukan merupakan jaminan bahwa kita lebih baik dari saudara-saudara kita di tanah air. Sungguh malu dan sangat malu jika kita merenungi kehormatan dan kemuliaan ibadah haji ini dengan kualitas diri kita yang sangat jauh dari kepantasan kualitas seorang hamba yang shalih.
Bahkan semua ini bisa menjadi “hutang” yang harus kita bayar dan kita pertanggung-jawabkan. Siapa tahu kita berada di tanah suci saat ini justru berkat doa orang-orang  shalih yang memintakan ampunan untuk manusia yang banyak  dosa seperti kita ini. Boleh jadi ampunan yang mereka mohonkan untuk kita itulah yang kemudian mengantarkan kita berada di tanah suci ini.
Saudara–saudaraku, kaum muslimin dan muslimat Rohimakumullah.
Padang Arafah hari ini seolah-olah tampil sebagai miniatur padang Mahsyar, dimana manusia berkumpul di hadapan kebesaran Allah SWT semuanya bertanggung jawab atas perbuatan dan kelakuannya masing-masing. Pangkat, jabatan dan harta kekayaan yang selama ini kita kejar ternyata tidak bisa menyelamatkan kita, bahkan keluarga terdekat kita selama ini yang kita manjakan ternyata juga tidak bisa berbuat apa-apa, untuk membantu kita pada hari itu. Malah tidak jarang semua itu menjadi alasan dan penyebab untuk menyiksa kita. Di Padang Arafah ini, kita pun telah menanggalkan atribut sosial kita, semua jabatan dan pangkat,  kita lepaskan pada hari ini. Yang melekat di badan kita,  hanyalah dua lembar kain ihrom. Kondisi seperti ini mengingatkan kita pada alam Barzah. Di alam Barzah nanti kita hanya ditemani kain kafan yang membungkus kita. Karena itu tiada yang kita harapkan dari Wuquf kita saat ini. kecuali ter ampuninya dosa-dosa kita dan terhapusnya kesalahan-kesalahan kita yang sudah membalut sekujur “tubuh” kita, sebab kita sadar betul, apalah artinya hidup dengan lumuran aib dan dosa yang melekat di tubuh ini.
Dosa telah membuat manusia harus kehilangan keberkahan dalam hidupnya, juga keberkahan dalam rizki, harta dan apa saja yang dimilikinya,   akibatnya manusia kehilangan ketenangan , juga kehilangan kebahagiaan justru di tengah–tengah genangan materi yang mengitarinya.
Dosa telah membuat manusia kehilangan hati nuraninya, sehingga mereka berbuat, berbicara, mendengar dan melihat bukan lagi karena dorongan hati nurani, melainkan karena kepentingan hawa nafsunya.
Dosa telah membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap sesama, nilai-nilai kasih sayang yang selama ini dijunjung-luhurkan dalam kehidupan sesama manusia telah berubah, berganti menjadi kebencian dan permusuhan bahkan pertikaian saling jatuh menjatuhkan. Kedengkian pun akhirnya menjadi penyakit epidemik, senang melihat yang lain susah dan susah melihat yang lainnya senang.
Dosa telah membutakan mata hati manusia, sehingga mereka tidak lagi bisa membedakan antara yang benar dan salah, haram dan halal,  haq dan batil. Akibatnya mereka kehilangan rasa bersalah saat berbuat salah, tiada beban saat berbuat dhalim kepada sesama, bahkan banyak diantara mereka bisa merasakan nikmatnya makanan hasil mencuri, sembari membanggakan kepada orang lain.
Dosa telah membuat manusia kehilangan rasa takut kepada Allah, juga kepada balasan buruk di akhirat kelak. Mereka juga kehilangan rasa cinta kepada Allah juga kepada kebaikan. Saat  rasa takut kepada Allah menghilang,  maka akan hadirlah rasa takut kehilangan dunia, dan ketika rasa cinta kepada Allah pun tergadaikan,  maka akan muncullah rasa cinta terhadap dunia.
Dosa telah menggiring manusia kejurang-jurang kehinaan yang membuat mereka kehilangan kemuliaan yang tersimpan dalam nilai-nilai kemanusiaan dirinya.
Dunia masa kini tak ubahnya bagai gelapnya belantara hutan,  di dalamnya berkumpul segala macam binatang. Binatang-binatang tersebut harus tunduk kepada hukum rimba yang sengaja diciptakan untuk melindungi kepentingan mereka yang perkasa dan berkuasa. Entah sudah berpuluh, beratus, beribu, bahkan berjuta korban telah dipersembahkan buat  santapan  mereka yang mengklaim, atau tepatnya memaksa dirinya, menjadi penguasa rimba belantara ini.
Allah Ta’ala berfirman :
   ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت ايد الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون      
“Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut diakibatkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagai akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali” (Arrum : 41)
Tamu-tamu Allah yang dirahmati-Nya…!
Saat ini kita masih dikaruniai kesempatan hidup di dunia. Namun hidup saat ini hanyalah bermakna menjalani sisa umur belaka. Bertambah waktu bagi kita adalah satu langkah mendekati liang kubur. Entah sampai kapan Allah meng- anugrahkan sisa umur ini untuk kita. Boleh jadi ada diantara kita yang oleh Allah diberi kesempatan hidup bertahun-tahun lagi. Mungkin diantara kita ada yang sisa umurnya tinggal beberapa bulan ini, atau beberapa pekan ini, atau boleh jadi ada diantara kita yang oleh Allah diberi kesempatan untuk menghuni tanah haram ini sebagai tanah peristirahatan menunggu saat-saat dibangkitkan di hari kiyamat nanti.
Sungguh alangkah indahnya jika umur yang tersisa ini, umur yang penuh dengan kasih sayang Allah, hari-hari yang kita lalui selalu sarat  dengan magfirrah dan rahmat Allah.
Alangkah indahnya jikalau di sisa umur ini kita menjadi ahli sujud, yang selalu rindu bersujud kepada Allah, alangkah beruntungnya jika lidah ini selalu basah menyebut kalimah Allah, alangkah bahagianya adaikata hari kita ini,  hari yang penuh keikhlasan, apapun yang kita lakukan  hanya Allah saja yang kita tuju, hari-hari yang kita jalani adalah hari-hari yang bersemangat untuk memperbaiki diri agar dicintai oleh Allah, hari-hari yang tersisa menjadi hari-hari yang bersemangat untuk mempersembahkan yang terbaik bagi  Allah , agar bisa menjadi bekal pulang ke akhiat.
Alangkah indahnya jikalau hari-hari yang tersisa ini menjadi hari-hari yang penuh dengan kemuliaan, penuh dengan kebaikan, kita menantikan saat kepulangan kita dengan penuh harap agar bisa wafat husnul khatimah.
Hadirin Hadirat sekalian !
Alangkah indahnya jikalau malaikat Maut menjemput kelak, tubuh kita sudah bersih dari dosa, aib-aib sudah terhapus, orang-orang yang kita sakiti sudah mau memaafkan kita, tidak ada harta haram yang melekat pada tubuh ini. Alangkah bahagianya jika malaikat menjemput kelak, tubuh kita terbasuh air wudhu, air mata kita sedang menetes merindukan Allah, lidah kita sedang lirih nan syahdu menyebut nama Allah, keringat bahkan darah kita sedang bersimbah di jalan Allah. Alangkah beruntungnya andaikata saat kepulangan nanti kita benar-benar sudah siap dengan bekal yang cukup.
Duhai alangkah bahagianya kalau di akhirat nanti kita dipanggil Allah dengan seindah-indah panggilan. Kita dipertemukan dengan kekasih-kekasih-Nya tercinta, para nabi,  rasul, para syuhada’ dan shalihin. Alangkah damainya jika diakhirat nanti, kita bertemu denga Rasul kekasih kita Muhammad SAW, hidup bertetangga dengan beliau di surga Allah SWT.
Namun sebaliknya, alangkah malangnya bagi orang yang mati dalam keadaan tidak terampuni, dosa berlimpah, aib menggunung, kenistaan bagai berselimut yang membungkus. mati dalam keadaan munafik. Mati di tempat ma’shiyat (na’uudzubillah).
Wahai saudaraku, mau kemana lagi, hidup di dunia hanya mampir sebentar, bukan di sini tempat kita yang sebenarnya. Lihatlah bayi-bayi sudah mulai lahir , anak-anak kecil sudah mulai hadir, merekalah yang akan menggantikan kita. Mungkin diantara kita ada yang beberapa tahun lagi, atau beberapa bulan lagi, atau ini mungkin hari terakhir kita. Bisa jadi besok kita tidak bangun lagi. Siapkah andai malam nanti malaikat Maut datang menghampiri kita? walau bagaimanapun kita harus siap, karena kita pasti akan mati. Kita sering sekali  mempermainkan ampunan Allah, kita bertaubat, tetapi sebentar, kemudian melakukan maksiyat. Betaubat hanya dibibir saja.
Pada siang ini kita berkumpul disini ingin mengikrarkan sebagai manusia yang terpanggil dengan julukan manusia – manusia yang beriman, sebagai manusia baru yang telah dicelup 40 hari lamanya, sebagaimana manusia yang menyambut seruan dan panggilan Allah SWT.,  40 hari lamanya telah dibakar hangus dosa yang pernah kita lakukan, baik disadari ataupun tidak disadari.
Haru hati kami ya Allah pada siang ini, telah berbaur antara sedih dengan gembira. Sedih karena kami harus berpisah dengan Padang Arafah yang penuh barakah. Sedih karena mungkin kami harus mengarungi berbagai hidup yang mungkin akan ganas, khawatir kalau-kalau kami tidak kuasa menghadapinya. Kami ingat pada orang tua yang telah tiada, ingat pula pada handaitaulan, tetangga, kawan karib dan jama’ah yang telah mendahului kami, kami ingat semuanya.
Terbayang pada ingatan kami perilaku yang tidak senonoh yang pernah kami lakukan. Ampuni ya… Allah,  dosa-dosa kami. Kami tak kuasa menderita akibat panasnya api neraka, namun dibalik semua itu perasaan  gembira kami meluap karena siang ini kami masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama jamaah haji sedunia dan se iman, 
Jamaah haji rahima kumullah
Betapa cepat roda perubahan mengitari kita. Di tahun lalu banyak diantara kita yang masih tampak segar bugar, namun kini telah terkulai lemah tidak berdaya. Bahkan ada pula tetangga Jama’ah Haji bersebelahan, atau Jema’ah Haji yang telah mendahului kita.
Kita tidak pernah menyadari kapan giliran itu tiba pada kita, sekalipun ajal itu datang tanpa permisi, masih juga kita beranggapan bahwa kematian hanya terjadi pada orang lain. Diantara kita ada yang masih mampu shalat berjama’ah setiap saat di tahun lalu, akan tetapi di tahun ini kemampuan fisiknya sudah renta. Ditahun lalu ada yang masih mampu berjalan mengunjungi berbagai pengajian, namun di tahun ini sudah tidak berdaya. Bagi mereka ini kita panjatkan do’a semoga Allah memberikan tempat yang baik di Jannatun-Na’im
Hadirin Kaum Muslimin Yang Berbahagia !
Patut kita syukuri nikmat berkumpul di Padang Arafah seperti ini, yang entah berapa kali kita mengalaminya, hanya Allah yang mengetahuinya. Hati tak ingin cepat mati, namun ajal tak dapat ditolak. Alhamdulillah kita masih diberi umur panjang sampai hari ini.
Namun demikian pula , patut kiranya kita resapi senandung seorang penyair yang berbunyi :
فَرَضَ عَلىَ النَّاسِ اَنْ يَتُوْبُوْا œ لَكِنْ تَرْكَ الذُّنُوْبِ اَوْجَبُ
وَالصَّبْرُ فىِ النَّآئِبَاتِ صَعْبٌ œ لَكِنْ فَوْتَ الثَّوَابِ اَصْعَبُ
وَالدَّهْرُ فىِ صَرْفِهِ عَجِيْبٌ œ لَكِنْ غَفْلَةَ النَّاسِ اَعْجَبُ
وَكُلُّ مَا قَدْ يَجِئُ قَرِيْبٌ œ لَكِنَّ اْلمَوْتَ مِنْ ذَاكَ اَقْرَبُ
Betapa nikmat manusia yang sempat taubat, œnamun lebih nikmat apabila ia luput dari ma’shiyat.
Alangkah berat menghadapi musibah, œnamun lebih pahit apabila pahala tidak tergamit.
Sungguh ajaib betapa waktu melenyap cepat, œtapi tidaklah lebih ajaib ada insan tak sadar saat.
Setiap yang akrab terasa dekat, œakan tetapi tidaklah maut lebih melekat?
Selanjutnya penyair bersenandung :
يَا مَنْ بِدُنْيَاهُ اِشْتَغَلْ œ قَدْ غَرَّهُ طُوْلُ اْلأَمَلْ
أَوْ لَمْ يَزَلْ فىِ غَفْلَةٍ œ حَتَّى دَنَا مِنْهُ اْلأَجَلْ
اَلْمَوْتُ يَأْتِى بَغْتَةً œ وَالقَّبْرُ صنَدُوْقُ اْلعَمَلْ
اِصْبِرْ عَلىَ أَهْوَالِهَا œ لاَ مَوْتَ اِلاَّ بِاْلأَجَلْ
Wahai manusia yang disibukkan dunia, yang terpedaya harapan hampa.
Masih  jugakah  engkau  lalai, sementara ajal semakin mendekat?
Kematian datang dengan sigap, kubur merupakan kurungan perbuatan.
Bersabarlah karena kehebatannya, tiada kematian tanpa ajal.
Kematian tidak diundang ataupun dicegah. Ia datang tanpa permisi, tanpa diminta, tanpa mengenal anak ataupun remaja, tak pandang tua ataupun muda. Datang atas perintah Allah SWT. Apa pula yang diungkapkan bumi yang kita injak? Imam Ibnu Hajar Al asqolani             ( Imam Nawani ) Dalam kitab Nasoihul ibad , beliau mengutip pendapat  Anas bin Malik r.a mengatakan bahwa bumi tempat kita berpijak merasa aneh melihat perilaku manusia. Sehingga bumi mencoba menarik perhatian manusia dengan sepuluh ungkapannya yang bernada sinis :
يَا ابْنَ آدَمَ تَسْعَى عَلىَ ظَهْرِيْ ، وَمَصِيْرُكَ فىِ بَطْنيِ ، وَتَعْصِي عَلىَ ظَهْرِيْ ، وَتُعَذَّبُ فىِ بَطْنيِ ، تَضْحَكُ عَلىَ ظَهْرِيْ ، وَتَبْكِيْ فىِ بَطْنِيْ ، وَتَفْرَحُ عَلىَ ظَهْرِيْ ، وَتَحْزَنُ فىِ بَطْنِيْ ، وَتَجْمَعُ اْلمَالَ عَلىَ ظَهْرِيْ ، وَتَنْدَمُ فىِ بَطْنِيْ ، وَتَأْكُلُ اْلحَرَامَ عَلىَ ظَهْرِيْ .
“wahai bani Adam ! Engkau seharian modar-mandir berusaha di atas punggungku, padahal perutku menjadi tempat kembalimu. Engkau melakukan ma’shiyat di atas punggungku, namun kelak menangis dalam perutku. Engkau bersenang-senang di atas punggungku, namun bersedih hati di dalam perutku. Engkau tumpuk-tumpuk hartamu di atas perutku, padahal kelak engkau menjadi makanan ulat dan cacing dalam perutku. Engkau hidup gembira di atas punggungku, namun menjadi hina dalam perutku. Engkau bersuka ria di atas punggungku, namun bermuram durja kelak di dalam perutku. Engkau berpesta pora di sinar matahari, bulan dan lampu di atas punggungku, namun kelak kau masuk kegelapan dalam perutku. Engkau dapat menghadiri perkumpulan-perkumpulan di atas punggungku namun kelak akan menyendiri dalam perutku”.

Pada kesempatan lain Rasulullah SAW juga bersabda di dalam hadist Qudsi: “Jika hamba-ku mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal maka aku mendekatkan diri-Ku sehasta dan apabila ia mendekatkan diri kepada- Ku satu hasta,  Aku mendekatkan satu lengan dan bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan,  aku datangi ia dengan berlari, Allah berfirman: barang siapa lalai dari mengingat Yang Maha Rahman maka syaitan akan menyesatkannya dan ia menjadi sahabatnya”.
Pada saat dan waktu yang hening dan sakral ini kita semua mengharap rahmat, ridha dan ampunan Allah SWT. Mudah-mudahan kita kembali ke tanah air dalam keadaan bersih dan suci bagaikan anak yang baru lahir, mendapatkan Haji Mabrur. Amiin .

                                      Khutbah kedua wukuf Arafah tahun 2012  
الحمد لله – الحمد لله رب العالمين  -   الذي قال فى كتابه الكر يم – ولله علي الناس حج البيت من استطع اليه سبيلا  -  اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له – و اشهد  ان  محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده  -  اللهم صل علي سيد نا محمد -  وعلي اله  واصحا به ومن وله -  ايها الجحاج  -  رحمكم الله  -  اتوا الله -   اتوا الله   حق تقا ته  - ولا تموتن الا وانتم مسلمون – قال تعالي في كتابه الكر يم – ان الله وملائكته يصلون علي النبي يا ايها الذين امنا صلوا عليه وسلموا تسليما – وقال الله في اياته الاْخري -  ان الاْبرار لفي نعيم  -   وان الفجار لفي جحيم -    اللهم صل علي سيد نا محمد -  وعلي اله  واصحا به اجمعين – وعن التابعين – وتابع التابعين وتابعهم باءحسان الي يوم الدين  وارحمنا معهم برحمتك يا ارحم الراحمين – اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين و المسلمات - الاْحياء منهم والاْموات - اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ حَجًّا مَبْرُوْرًا ، وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا ، وَذَنْباً مَغْفُوْرًا ، وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً ، وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ ، يَا عَالِمَ مَا فىِ الصُّدُوْرِ اَخْرِجْنَا يَا اَلله مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلىَ النُّوْرِ  - ربنا اغفر لنا ذنوبنا  ولاءخوننا الذين سبون بالائمان  ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين امنوا  ربنا انك رؤف رحيم – ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار – عباد الله – ان الله ياْمر بالعد ل والاءحسان  وا يتاء ذي القربي وينهي عن الفخشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون -  فاذكروا الله العطيم يذكركم – واسئلوه من فضله يعطيكم – ولذكر الله اكبر -  والسلا م عليكم ورحمة الله وبركا ته   -    

*) disampaikan pada  khutbah wukuf arafah pelaksanaan haji tahun 2012 M/1433 H pada  hari kamis 25 Oktober 2012 .