Rabu, 18 Desember 2013

LIMA MUSIBAH DI DUNIA

Para hukama' ( ahli hukum Islam )  meringkas bahwa di dunia ini ada lima musibah dan musibah ini dapat  menimpa siapapun juga tidak pandang siapakah dirinya , kapan saja dan dimana saja berada : lima musibah dimaksud adalah  :
1. Sakit diwaktu mengembara ( jauh dari tempat tinggal )
2. Fakir di waktu tua
3. Mati di waktu muda 
4. Buta setelah dapat melihat dan 
5. Kufur setelah mendapatkan iman
Diatara  lima musibah tersebut yang paling berat adalah apabila tercabut iman dan Islam , naudzu billah mindzalik  dan  semoga kita  terhindar dari lima musibah tersebut. terimakasih, semoga tulisan ini ada manfaatnya amiin. 


Jumat, 11 Oktober 2013

Materi khutbah Idul adha 1434 H./2013 M.
TANPA PENGORBANAN TAK KAN ADA KEBERHASILAN
Oleh :  Drs. H. Sudono Al-Qudsi, M.H. *)
 اللهُ أكْبَرُ × 9
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،
 لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَه    واعزجنده    وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، ، ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

              Hari ini Allah SWT. masih sayang kepada kita, Allah Maha Pemurah telah memberikan segala fasilitas untuk kita semua, iman , Islam, kesehatan ,waktu , dan kesempatan , sehingga pagi ini kita dapat melaksanakan sholat Idul Adha tahun 1434 H/2013 M . dalam keadaan sehat, aman dan damai.

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
            Marilah tundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Sebab apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, masih lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.
             Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupun istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.
           Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan.
          Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat Siti Hajar dan Nabi Ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat. Kota Mekkah yang aman dan makmur dilukiskan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126),
          Dari ayat tersebut, kita memperoleh bukti yang jelas bahwa  kota Makkah hingga saat ini memiliki kemakmuran yang melimpah. Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, memperoleh fasilitas yang cukup, selama melakukan ibadah haji maupun umrah.
Hal itu membuktikan tingkat kemakmuran modern, dalam tata pemerintahan dan ekonomi, serta keamanan hukum, sebagai faktor utama kemakmuran rakyat yang mengagumkan. Yang semua itu menjadi dalil, bahwa do’a Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT. Semua kemakmuran tidak hanya dinikmati oleh orang Islam saja. Orang-orang yang tidak beragama Islam pun ikut menikmati.
Allah SWT berfirman:
قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Artinya: Allah berfirman: “Dan kepada orang kafirpun, aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka. Dan itulah seburuk buruk tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 126)
           Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari cara memotong kurban binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan  “Khalilullah” (kekasih Allah).
           Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhaktinya!”
           Kemudian Allah SWT mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.
          Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang  “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak,Demi Allah ,  bila Allah meminta anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.”Ibrahim bersumpah atas nama Alloh.
           Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah As-Shoffat : 102 :
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.(QS As-shaffat: 102).
          Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan siti Hajarpun mengatakan, : ”jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.” Mereka  melempar iblis dengan batu, sehingga mata sebelah kiri iblis buta,  serta mengusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di mina.
            Setelah sampai disuatu tempat, dalam keadaan tenang Ismail berkata kepada ayahnya : ”ayah, ku harap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak dapat bergerak leluasa, sehingga menyusahkan ayah. Hadapkan mukaku ke tanah, supaya tidak melihatnya, sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan. Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan.  Asahlah tajam-tajam pisau ayah, agar penyembelihan berjalan singkat, sebab sakaratul maut dahsyat sekali. Berikan bajuku kepada ibu untuk kenang-kenangan serta sampaikan salamku kepadanya supaya dia tetap sabar, saya dilindungi Allah SWT, jangan cerita bagaimana ayah mengikat tanganku.  Jangan izinkan anak-anak sebayaku datang kerumah, agar kesedihan ibu tidak terulang kembali, dan apabila ayah melihat anak-anak sebayaku, janganlah terlampau jauh untuk diperhatikan, nanti ayah akan bersedih.
           Nabi Ibrohim menjawab ”baiklah anakku, Allah swt akan menolongmu”. Setelah ismail, putra tercinta ditelentangkan diatas sebuah batu, dan pisaupun diletakkan diatas lehernya, Ibrohim pun menyembelih dengan menekan pisau itu kuat-kuat, namun tidak mempan, bahkan tergorespun tidak.
            Pada saat itu, Allah swt membuka dinding yang menghalangi pandangan malaikat di langit dan dibumi, mereka tunduk dan sujud kepada Allah SWT, takjub menyaksikan keduanya. ”lihatlah hambaku itu, rela dan senang hati menyembelih anaknya sendiri dengan pisau, karena semata-mata untuk memperoleh kerelaanku.
            Sementara itu, Ismail pun berkata : ”ayah.. bukalah ikatan kaki dan tanganku, agar Allah SWT tidak melihatku dalam keadaan terpaksa, dan letakkan pisau itu dileherku, supaya malaikat menyaksikan putra kholilullah Ibrohim taat dan patuh kepada perintah-Nya.”
            Ibrohim mengabulkannya. Lantas membuka ikatan dan menekan pisau itu ke lehernya kuat-kuat, namun lehernya tidak apa-apa, bahkan bila ditekan, pisau itu berbalik, yang tajam berada di bagian atas. Ibrohim mencoba memotongkan pisau itu ke sebuah batu, ternyata batu yang keras itu terbelah. ”hai pisau, engkau sanggup membelah batu, tapi kenapa tidak sanggup memotong leher” kata ibrahim. Dengan izin Allah SWT, pisau itu menjawab, ”anda katakan potonglah, tapi Allah mengatakan jangan potong, mana mungkin aku memenuhi perintahmu wahai ibrahim, jika akibatnya akan durhaka kepada Allah SWT”
            Dalam pada itu Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana telah diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 107-110:
             Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya  “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’
            Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang. Korban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih terlalu banyak berfikir. memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat lima waktu, kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak mampu melaksanakannya, dan sebagainya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat  Allah SWT.
            Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha ini adalah, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban.
Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa tersebut adalah:
Pertama, Hendaknya kita sebagai orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya.
Kedua, perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri.
ketiga, adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan Allah SWT. Syaitan senantiasa terus berusaha menyeret manusia kepada kehancuran dan kegelapan. Maka janganlah mengikuti bujuk rayu syaithon, karena sesungguhnya syaithon adalah musuh yang nyata.
Keempat, jenis sembelihan berupa bahimah (binatang ternak), artinya dengan matinya hayawan ternak, kita buang kecongkaan dan kesombongan kita, hawa nafsu hayawaniyah harus dikendalikan, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita.
            Tepatlah apabila perayaan Idul Adha digunakan menggugah hati kita untuk berkorban bagi negeri kita tercinta, yang tidak pernah luput dirundung kesusahan. Sebab pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat manusia itulah yang membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan mempunyai arti besar. Dari sejarahnya itu, maka lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan air zam-zam yang tidak pernah kering, sejak ribuan tahunan yang silam, sekalipun tiap harinya dikuras berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang paling sabar dan tabah yaitu Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail.
           Akhirnya dalam kondisi seperti ini kita banyak berharap, berusaha dan berdoa,  mudah-mudahan kita semua, para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, tapi berjuang untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara. Kendatipun perjuangan itu tidaklah mudah, memerlukan pengorbanan yang besar. Hanya orang-orang bertaqwa lah yang sanggup melaksanakan perjuangan dan pengorbanan ini dengan sebaik-baiknya.
           Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk terus bersemangat, rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin, demikian khutbah ini semoga ada manfaatnya dan semoga kita diberi kesempatan untuk merayakannya pada idul adha tahun 1435 H. yang akan datang amiin. Terimakasih .

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِوَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِوَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*) Adalah hakim Pengadilan Agama Blitar Kelas I . A. 


Materi  Khutbah  Idul Adha 1434 H/2013 M.
JANGAN MABUK PUJIAN , KORBANKAN SIFAT KEBINATANGANMU
Oleh : Drs. H. Sudono Al-Qudsi, M.H.*)
اللهُ أكْبَرُ × 9
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ واعز جند ه    وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى سيّدِنَا وحَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر  -  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر  -  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ 
       Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur kehadlirat Allah Yang Maha Mulia , kita telah sama-sama melaksanakan sholat idul adha tahun 1434 H/2013 M.  di masjid Al Mubarok  Kaweron  , memancarkan syiar Islam minimal untuk masyarakat Kaweron dan sekitarnya  , menjadi pusat  perhatian  , yang insya Alloh sebentar lagi Menara masjid ini akan selesai sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Islam Kaweron . Terlebih disaat yang sangat berbahagia seperti ini, dimana kita ditakdirkan dapat diterima dan bersimpuh dihadapan-Nya untuk menghadapkan segala kerendahan diri dan kehinaan di hadapan Dzat Yang Maha Mulia dan Perkasa. Menghaturkan segala hajad dan kebutuhan hidup di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa. Curhat atas segala kelemahan diri dan dosa-dosa di hadapan Allah yang Maha Pengampun, di masjid yang mulia ini bersama-sama melaksanakan sholat Idul Adha.
         Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habiibina Baginda Nabi Muhammad SAW.
      Salah satu pengorbanan besar yang tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang diabadikan Allah dalam firman-Nya, seakan telah menjadi pondasi bangunan yang kokoh kuat ketika Allah berkehendak menghidupkan dan membangun kota Mekkah Al-Mukarromah. Pengurbanan yang sama sekali tidak masuk di akal sehat. Betapa seorang ayah atas isyarat mimpi harus menyembelih satu-satunya putra tercinta dan perintah itu dapat mereka berdua laksanakan dengan sempurna tanpa cacat. Perintah Allah Swt. tersebut berawal dari bisikan mimpi yang mengusik tidur Abal Anbiya’, Nabiyulloh Ibrahim As. Allah memberikan wahyu lewat mimpi benar, kepada nabi-Nya agar menyembelih putra semata wayangnya yang bernama Ismail. Ketika Ibrahim terjaga dari tidurnya, ia mengira apa yang mengganggu tidurnya itu hanya bisikan setan yang lalu lalang seperti bisa, sebab sangat tidak mungkin Allah Swt yang Maha Penyayang dan pengasih memerintahkan nabi-Nya untuk menyembelih putra yang telah lama dinanti-nantikannya. Satu-satunya putra yang digadang-gadang menjadi penerus perjuangan, pelanjut silsilah keturunan dan penyambung kenabian.
        Namun demikian mimpi menakutkan itu tidak dibiarkan berlalu begitu saja tanpa arti. Nabi Ibrahim As. mencoba merespon dengan akalnya, hasilnya dia menampik perintah tersebut lantaran tidak bisa diterima logika. Ketika Allah kembali mengusiknya dengan mimpi yang sama sampai tiga kali, baru Nabi Ibrahim Khalilullah ini sadar dan yakin bahwa mimpi tersebut bukan sekedar bisikan setan yang lalu lalang melainkan perintah langit yang dirahasiakan, maka hamba yang taat itu segera saja mencampakkan akalnya dan menerima perintah tersebut dengan hati dan iman secara kafah sebagai wujud ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada Junjungannya yang Maha Perkasa. Peristiwa sejarah tersebut diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). – Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, –  sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. – Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata – Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar – Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.  (QS.Ash-Shofat/102 – 109)
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata – Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”, demikian yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya di atas . Ujian yang benar-benar ujian yang diberikan Allah kepada kekasih-Nya itu, ketika mampu dilaksanakan dengan sabar dan ikhlas maka Allah memberikan balasan besar kepadanya. Wujud balasan itu tidak hanya diselamatkan dari ujian tersebut, namun juga mendapatkan pujian yang abadi, derajat tinggi dan bahkan menjadi sebab diturunkannya keberkahan Allah untuk Bumi di mana tempat ujian itu terjadi.
   Ketika seorang anak dihadapkan kematian dengan pedang di tangan ayahnya sendiri, anak itu dengan tulus berkata : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Ketika seorang ayah harus melaksanakan perintah untuk menyembelih anak tercintanya yang sedang berbaring lemas dipangkuannya dan menyiapkan lehernya untuk digorok oleh tangannya sendiri, seorang bapak mampu melakukannya dengan ikhlas semata-mata karena melaksanakan perintah Allah, padahal perintah itu hanya diterima melalui mimpi. Subhanallah !!! siapakah yang sanggup melakuan pekerjaan yang tidak logis itu selain para kekasih-Mu Ya Allah. Seorang hamba yang lebih mencintai-Mu dibandingkan cintanya kepada apa saja selain-Mu, meski kepada satu-satunya calon penerus keturunan yang dibanggakannya … !!
       Ketika dengan sabar dan penuh keikhlasan Nabi Ibrahim As menjalankan perintah tersebut, Allah bangga kepadanya. Sedetik sebelum mata pedang yang sudah diasah tajam itu menyentuh leher anak yang matanya sudah terpejam, dengan kuasa-Nya Allah Swt mengganti tubuh anak tersebut dengan seekor kambing kibas dari surga. Inilah peristiwa besar dalam sejarah kemanusiaan yang mungkin tidak akan terulang sepanjang zaman. Peristiwa sejarah mana yang menunjukkan pelajaran yang amat sangat berharga, yakni apabila orang mau bersabar menghadapi ujian dan musibah dan ridho serta ikhlas menjalaninya, meski nyawa taruhannya, bukan saja akan mendapat pahala basar, namun juga ganti yang lebih baik dan sempurna. Terbukti bahwa pengurbanan yang dilakukan dua manusia pilihan itu tidak sia sia, tidak hilang begitu saja ditelan zaman, namun telah menjadi pondasi yang kokoh kuat atas bangunan kota Mekkah al-Mukarromah dan keberkahan Allah yang dicurahkan di atas kota itu dan sekitarnya sampai saat sekarang. Tanah yang asalnya mati dan gersang itu menjadi kota yang paling makmur dan penuh berkah di muka bumi.
    Idul Adha identik dengan Idul Qurban, tapi qurban yang dimaksudkan khotib bukan sekedar menyembelih hewan qurban kemudian dagingnya dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerima. Qurban yang dimaksudkan adalah melaksanakan pengurbanan hakiki, yakni mengurbankan sebagian yang kita cintai, baik harta benda maupun penghormatan untuk dibagikan kepada orang yang lebih membutuhkannya, hal itu dilakukan semata-mata melaksanakan “ta’abbudan lillah”, semata-mata mengabdi kepada Allah dalam rangka memperingati dan mengenang pengurbanan besar yang dilakukan Nabiyullah Ibrahim As beserta keluarganya. Pengurbanan mana yang nantinya tidak hanya bisa dijadikan pelajaran dalam hidup saja, namun juga mampu meningkatkan taraf kehidupan kita, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Pengurbanan yang mampu mengangkat hasrat kemanusian, meningkatkan kapasitas hidup dan kemampuan pribadi, menjadi orang mulia baik dihadapan manusia maupun dihadapan Rabbul Izzah, demikian itu yang pernah dilakukan dan didapatkan oleh Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya.
    Ibadah qurban juga sekaligus harus bisa merontokkan sifat-sifat basyariah yang tercela, kebiasaaan dan karakter kemanusiaan yang jika dibiarkan bisa menjadi penyebab timbulnya kerusakan di di muka bumi.
  Jika kita mengamati fenomena yang terjadi belakangan ini adalah tahun politik , di mana  orang bebas ngomong politik , tidak peduli  omongannya benar atau salah , orang yang bukan ahlinya memberikan komentar seakan-akan dia ahli dan menguasainya, penuh dengan kemunafikan, para Tokoh Partai Politik sedang memutar otak untuk menutupi boroknya dengan kebohongan dan pencitraan, sekaligus mencari dana biaya pencitraan yang tidak sedikit, hingga banyak dari kalangan mereka menjadi gelap mata, berlomba-lomba mengeruk uang haram, meraup anggaran proyek di Kementrian yang dikuasai , supaya ikut kebagian uang rampokan, akibatnya di tahun politik ini korupsi jadi tren semakin meraja lela dan membabi buta , ia mengorbankan  jabatannya demi uang, uang dan uang, keadilan bisa dibeli dengan uang , seharusnya seseorang mampu idul qurban ini untuk mengorbankan sifat-sifat kebinatangannya .
    Tidak hanya itu saja, para Tokoh Partisan yang jelas-jelas terindikasi berbuat kejahatan, korupsi dan menyalagunakan jabatan masih saja ngotot untuk memenangkan pertarungan. Mereka tidak sungkan-sungkan tampil di panggung pencitraan, padahal boroknya tidak ketulungan, bahkan banyak bermunculan orang yang hanya bermodalkan nekat, karena terbiasa merasa besar dikalangan sendiri kemudian muncul di publik, akibat mabuk pujian dari para penjilat yang nebeng kehidupan hingga tidak merasa malu dan mengukur kemampuan mendeklarasikan diri jadi calon legislatif, baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat bahkan ingin jadi calon Presiden, subhanalloh..
    Bahkan dari kalangan para Ustadz yang terhormat, yang dulunya jadi panutan rakyat karena selalu membawa-bawa nama ayat Alqur’an  dan hadis, ternyata  ketika menduduki jabatan tinggi di Partai Politik atau jadi caleg , bahkan satu-satunya partai politik yang berani menamakan diri Partai berazaskan islam , ternyata sama saja, setali tiga uang, kini sebagian mereka ada yang duduk manis di kursi pesakitan, sementara waktu harus berpisah dengan keluarga tercinta karena mempertanggungjawabkan perbuatannya. Inilah realita dan fenomena yang sampai saat ini setiap hari dan setiap saat masih saja disajikan oleh media masa di Negeri ini, baik Elektronik/TV, media Cetak dan media Online.
      Kita boleh bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah kita harus mencontoh mereka itu, para perusak kehidupan sesama, sekedar untuk meraih kejayaan pribadi maupun golongan? , para perampok uang rakyat bahkan dengan mengatasnamakan Agama dan Dakwah yang akhirnya terjerembab jadi tersangka bahkan sudah dipidana ? Jika tidak, pertanyaan berikutnya apa yang sudah kita perbuat untuk kejayaan kita sendiri, pengorbanan macam apa yang sudah kita lakukan untuk mencapai peningkatan hidup yang kita dambakan, untuk keberhasilan hidup kita sendiri bukan keberhasilan hidup orang lain. Apakah kita hanya boleh menuntut saja tanpa berbuat apa-apa , sementara orang lain berkorban dan bahkan dikorbankan …? Atau barangkali kita yang justru selalu mengurbankan kepentingan orang lain untuk kelangsungan hidup kita ?, bahkan menjadikan orang lain sebagai tumbal dan kambing hitam untuk sekedar menyelamatkan kehidupan kita yang sedang terancam bahaya ?. Kita hanya berharap hidup enak tapi enggan melakukan perjuangan..?, Apalagi kalau ternyata kita yang selalu menjadi sebab terjadinya kerusakan di muka bumi dengan ucapan atau fitnah dan adu domba yang kita lontarkan kepada sesama kawan,  kemudian kita berharap mendapatkan kebaikan dari keburukan yang kita lakukan itu ? apakah hal semacam itu bisa terwujud sementara fenomena sejarah telah berbicara secara terang benderang, bahwa tanpa pengorbanan jangan harap ada keberhasilan.
   Oleh karena itu setiap pribadi Muslim harus siap berkorban untuk kebahagiannya sendiri. Setiap kita harus siap menyongsong keberhasilan dan peningkatan hidup dengan perjuangan dan pengorbanan. Dimulai dari diri sendiri untuk tidak berpangkutangan saja dan bermalas-malasan dan ketika berakibat buruk pada kehidupannya kemudian orang mengkambinghitamkan nasib dan takdir. Padahal nasib dan takdir itu harus dimulai dari diri sendiri, “siapa beramal sholeh maka itu untuk dirinya sendiri, dan siapa berbuat jahat akibatnya akan ditanggung sendiri”. Maksudnya, barangsiapa menanam kebaikan, akan menuai kebajikan dan barangsiapa menanam kejahatan dan kemalasan akan menuai kehancuran. Itu berlaku untuk diri sendiri bukan untuk orang lain, itulah sunnahtullah yang tidak ada perubahan untuk selama-lamanya.
Demikian tulisan ini semoga ada guna dan manfaatnya. Amiin.
قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون :   وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم  . وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين


*) adalah Hakim Pengadilan Agama Blitar kelas I . A.  khutbah Idul Adha ini disampaikan di masjid Al Mubarok Kaweron Talun Blitar pada hari selasa 15 Oktober 2013 M /10 Dzulhijjah 1434 H.

Sabtu, 31 Agustus 2013

              Materi khutbah Idul Adha tahun 2009 di masjid Baitul Muttaqin Banyuwangi

 POTRET KELUARGA IDEAL DALAM PENTAS HAJI
Oleh :   Drs. Sudono Al-Qudsi ,   M.H


Ummat Islam mengetahui bahwa ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan sekali seumur hidup bagi orang yang mampu, dan Allah menetapkan hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah sebagai hari raya haji atau Idul Adha atau hari raya qurban, bagi seluruh ummat Islam. Bahkan menurut Dr.Wahbah Az Zuhaili dalam kitab AlFiqhul Islami Wa Adillatuhu menyebutkan bahwa Ibadah haji termasuk ibadah murakkabah yaitu paduan antara ibadah maliyah makhdhoh dan ibadah badaniyah makhdhoh, dimana didalam ibadah haji diperlukan pengorbanan harta untuk ongkos naik haji ( ONH ), disamping seluruh badan kita mulai dari ihrom sampai tahalul semuanya bergerak dan tenagapun terkuras demi panggilan Allah SWT.
Dalam ibadah haji hampir semua langkah yang dilaksanakan oleh orang yang berhaji merupakan simbul dan sejarah dan seakan-akan   melakukan   napak tilas  ( rekonstruksi / peragaan ulang ) terhadap kejadian-kejadian besar yang di alami Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail  dalam menegakkan agama Allah, ketiganya merupakan sebuah  figure keluarga ideal dalam pentas haji yang patut di jadikan teladan bagi ummat Islam dimana saja berada dimasa kini maupun masa  mendatang , selalu relevan bagi siapa saja yang ingin membingkai ulang       ( reframing ) bagi kehidupan berkeluarga.
Kisah para Nabi dalam Al Qur’an dengan keluarga atau bersama ummatnya merupakan sejarah yang penuturannya menyampaikan pesan-pesan moral untuk dikaji dan dijadikan pedoman hidup bagi ummat masa kini dan masa mendatang. Dalam surat yusuf ayat 111 difirmankan, yang artinya : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka  itu terdapat pengajaran bagi orang –orang yang mempunyai akal”. Dengan demikian menurut ayat ini suatu kisah / sejarah para Nabi dapat berfungsi efektif sebagai pembawa pesan moral atau pengajaran hidup, hanya bagi mereka yang mempunyai nalar atau mau menggunakan nalarnya menangkap pesan-pesan yang yang tersurat maupun tersirat didalamnya. Sekian banyak ayat-ayat Allah yang memperingatkan kepada ummatNya dengan menggunakan ungkapan “ ulil albab , ulil abshor, dan lain sebagainya, karena hanya manusia beriman yang mampu mencapai derajat tersebut.
Khusus tentang keluarga nabi Ibrahim perjalanan hidupnya tidak hanya tertutur dalam ayat-ayat AlQur’an semata, tetapi tergambarkan dalam amalan ibadah haji. Dapat dikatakan bahwa sejarah hidup keluarga nabi Ibrahim diungkap dalam   bentuk  narasi yang pertama kalinya disampaikan  secara oral      ( saat diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW.) yang kemudian terekam dalam hafalan para sahabat dan sebagai upaya pelestariannya pada masa kholifah Abu Bakar atas inisiatif Umar Bin Khoththob dikolektifkan dalam bentuk tulisan yang pada akhirnya sekarang ini tersusun dalam mashaf AlQur’an Utsmani, disamping penghafalannya masih berlangsung hingga kini, juga dimonumentasikan dalam bentuk semacam “Opera” yang ujudnya adalah amalan ibadah haji.
Amalan haji disamping merupakan salah satu bentuk ibadah makhdhoh juga merupakan  rekontruksi atau peragaan ulang dari yang pernah terjadi dan dialami oleh keluarga Ibrahim, sehingga diabadikan dalam bentuk amalan ibadah haji yang masih dan terus berlangsung hingga kini bahkan jutaan ummat Islam sedunia melaksanakan amalan ibadah haji setiap tahunnya.  Peragaan ini tentu mempunyai maksud-maksud khusus. Ka’bah, Sa’i antara shofa dan Marwah, sumur zam-zam pelemparan jumroh,, penyembelihan binatang ternak  dan lainnya seperti mencukur/memendekkan rambut, seolah-olah melakukan napak tilas terhadap kejadian-kejadian besar yang di alami keluarga nabi Ibrahim dalam menegakkan agama Allah.
Semua simbul diatas patut direnungkan oleh orang yang berhaji maupun yang tidak. Oleh karena itu berikut ini satu saja yang akan penulis uraikan dari sekian banyak simbul dari amalan ibadah haji yaitu Pelemparan batu ( jumroh ).
Bahwa salah satu amalan ibadah haji adalah pelemparan batu, pekerjaan ini mengingatkan kita akan kejadian yang di alami nabi Ibrahim ketika melempari iblis sehingga mata kirinya buta. Hal ini dilakukan karena sang iblis menggoda keluarga nabi Ibrahim menghalangi mereka dalam melaksanakan perintah Allah yakni penyembelihan Ismail. Untuk menanggalkan rencana penyembelihan yang merupakan perintah Allah itu, pertama kali iblis mendatangi Ibrahim sebagai pemeran utama yaitu kepala keluarga.Kata iblis : “Apakah engkau tidak melihat ketegapan anakmu, ke elokan paras dan ketegapan berjalannya yang pantas” ?  Ya itu aku tahu, tapi ini perintah Allah yang harus aku laksanakan, tegas Ibrahim. Keteguhan dan ketegaran Ibrahim dapat menepis godaan iblis.
Gagal menggoda Ibrahim, iblis berupaya memanfaatkan kelembutan dan kasih sayang keibuan Siti Hajar supaya menghalangi maksud suaminya. “ Hajar, bagaimana engkau berpangku tangan, sementara suamimu Ibrahim membawa anakmu dengan pedang dan tali di tangannya” ? kata iblis lembut dengan penuh iba dan harapan rasa keibuannya tersentuh, maksudmu ? tanya Hajar : Apa ada seorang ayah yang tega membunuh anaknya ? “ Katanya itu perintah Tuhannya saut iblis”. Kalau itu memang perintah Tuhan, jangankan nyawa anakku, nyawa akupun siap ku korbankan, begitu sanggah Siti hajar dengan mantab. Rencana Ibrahim sebagai suami dan kepala rumah tangga dalam merealisasikan perintah Allah bukannya dihalangi tapi bahkan didukungnya dengan penuh keikhlasan.
Iblis mencoba menggoda Ismail, “ Ismail, nampaknya engkau senang betul diajak ayahmu berjalan”. Tidakkah engkau lihat ia membawa tali dan pedang untuk menyembelihmu “, Kenapa pula ayah menyembelihku ? Tanya Ismail. Katanya itu perintah Tuhan, jawab iblis”. Kalau itu memang perintah Tuhan aku siap untuk itu, tegas Ismail “. Pada saat iblis mencoba berkata lagi, Ismail mengambil batu kerikil lalu membidikkannya ke mata kiri iblis hingga buta. Maka kandaslah makar iblis dalam menggagalkan rencara keluarga Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah, ia pergi dengan putus asa.
Dari adegan tadi, nampak adanya keserasian sikap keagamaan Ibrahim sebagai kepala keluarga,  Siti hajar sebagai mitranya dan Ismail selaku anak yang sholih. Hal-hal semacam inilah yang patut di teladani dan ditanamkan dalam sebuah keluarga muslim. Kesadaran beragama yang tuntas harus dimiliki oleh setiap anggota keluarga baik sebagai istri, anak, lebih-lebih sebagai kepala keluarga yang merupakan nahkoda yang akan mengarahkan tujuan hidupnya.
Sikap keagamaan seorang suami bisa dipengaruhi oleh karakter  dan sikap istrinya dan sebaliknya, sebagaimana sikap anak dapat mempengaruhi tingkah laku hidup orang tuanya, seperti sebaliknya. Keberadaan seorang istri dengan kadar keimanannya yang mantab dapat membawa pengaruh yang positif terhadap suaminya dalam melaksanakan perintah Allah dan mencegah dari hal-hal yang dilarangNya.
Suatu ketika bisa terjadi sebaliknya, rencana suami dalam melaksanakan perintah Allah untuk melaksanakan ibadah haji misalnya, menyembelih hewan qurban, menginfaqkan harta untuk kepentingan Islam, memberikan santunan kepada mereka yang membutuhkan, bisa gagal karena tidak didukung  oleh istrinya. Tuntutan ekonomi  istri diluar batas kemampuan suami , dapat menyebabkan suami melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan agama ( korupsi, kolusi, penggelapan uang ) dan lainnya .  Istri tidak hanya sebagai pendamping hidup suami, tetapi punya fungsi social control  bagi suami jika suami melakukan perbuatan salah.
Potensi ketaatan seorang istri terhadap perintah-perintah Allah, mati karena tercemar oleh karakter dan sikap suami yang dangkal pengetahuan dan wawasan keagamaannya, lebih-lebih bila berbeda agamanya. Begitu pula terkadang tuntutan-tuntutan anak yang cenderung konsumtif dapat lebih diprioritaskan pada saat orang tua dihadapkan juga pada tuntutan-tuntutan agama, karena kecintaan mereka kepada anaknya yang menurut pandangan syari’at Islam tidak proporsional. Seperti halnya potensi keagamaan seorang anak dapat menjadi terkendala perkembangannya lantaran sikap dan tingkah laku orang tuanya dirumah yang merupakan contoh yang paling efektif bagi anak,  ternyata suami tidak dapat menjadi contoh yang baik bagi keluarganya.
Mengantisipasi kejadian-kejadian diatas, Allah mengingatkan melalui FirmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, Sungguh diantara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka waspadalah”. (QS.At Taghobun ayat 14 ). Memberikan tafsiran pada ayat tersebut, Ahmad Musthofa Al Maraghi menjelaskan bahwa, diantara istri-istri dan anak-anak itu ada yang menjadi musuh bagi suami/ayahnya dalam pengertian bahwa mereka dapat menghalangi suami/ayahnya dalam melaksanakan perintah-perintah Allah, mendorong untuk berbuat keharaman dan dosa demi memenuhi tuntutan mereka. Diriwayatkan bahwa Rasululloh SAW. Telah memprediksi hal itu dengan sabdanya  “ Akan datang suatu zaman yang saat itu seorang laki-laki binasa karena ulah istrinya dan anaknya. Ia dicaci oleh istri dan anaknya karena tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi, sehingga terdorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela, maka binasalah ia”.
Diantara penyebab terjadinya kerusakan pada sebuah keluarga adalah berperannya setan atau iblis, sebagaimana pernah dialami keluarga nabi Ibrahim . Hanya saja keluarga Ibrahim mampu bertahan dan dapat menghalau iblis. Mengingat begitu gigihnya sang iblis dalam merusak kehidupan rumah tangga supaya para anggotanya menentang hukum-hukum Allah, maka dalam sebuah rumag tangga diperlukan adanya apa yang disebut “Ketahanan Rumah Tangga”. Agar tetap menjadi keluarga yang ideal . dalam bahasa lain dikatakan menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah  (  Q.S.  Ar rum ayat 21 ).
Ketahanan rumah tangga yaitu suatu kehidupan rumah tangga yang dinamis, dapat menangkal segala sesuatu yang menyebabkan kehidupan rumah tangga tidak serasi dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam suatu rumah tangga akan terwujud suatu ketahanan rumah tangga apabila ditata dengan pola-pola yang terencana, yang diantaranya paling tidak sebagai berikut :
1.      Sebuah keluarga merupakan organisasi kecil yang para anggotanya dituntut untuk mau bekerjasama dalam mencapai tujuan hidup, yaitu terpenuhinya kebutuhan hidup di dunia ini maupun tujuan jangka panjang, yaitu tercapainya suatu kehidupan yang menyenangkan di akhirat kelak, dan ini yang paling utama. Setiap anggota keluarga tidak mengajukan tuntutan diluar kemampuan yang ada , yang menyebabkan anggota keluarga yang lain melakukan hal-hal yang dilarang agama.
2.      Dalam sebuah keluarga kedudukan seorang suami/ ayah adalah sebagai pemimpin dan Pembina keluarga. Ia tidak hanya sebagai penanggungjawab ekonomi yang harus menjamin kebutuhan ekonomi semata, lebih dari itu ia sebagai penanggungjawab atas keselamatan anggotanya di kehidupan akhirat kelak. Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS.At Tahrim ayat 6 ). Seorang suami/ayah harus membuat perencanaan yang matang, dalam arti mencanangkan suatu program  khusus yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan , terciptanya kehidupan yang serasi dengan ajaran-ajaran agama, mengarahkan dan menggerakkan para anggotanya kearah tersebut sambil tak bosan-bosannya mengawasi dan mengevaluasinya. Mengarahkan dan menggerakkan disini tentunya tidak cukup hanya  dengan perintah atau anjuran, tetapi akan lebih efektif dengan contoh kongrit, yaitu tingkah lakunya sendiri. Pengawasan dan evaluasi diperlukan mengingat tantangan-tantangan yang dihadapi dewasa ini makin berat. Berhasil tidaknya membina keluarga, ia akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Rasululloh SAW. Bersabda :”Seorang laki-laki/suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia nanti akan dimintai pertanggungjawabannya tentang bagaimana ia memimpin keluarganya tersebut.
3.      Setiap anggota keluarga dengan tak mengenal bosan mau membina keimanannya dengan senantiasa meningkatkan wawasan keagamaannya, mengkaji, memperdalam pengetahuan agama melalui media-media yang ada, baik majlis-majlis taklim, kelompok studi maupun mendatangkan guru privat.
4.      Setiap anggota keluarga senantiasa mau mengevaluasi diri , menerima kritik dan saling menghargai, saling  menghormati , mengakui adanya kekurangan dan kelebihan masing agar tercipta suasana agamis dalam rumah tangganya.
Dengan upaya-upaya diatas diharapkan sebuah keluarga/rumah tangga dapat berjalan serasi dengan norma agama, mampu menangkal segala gangguan dari luar.
Itulah sebuah potret keluarga ideal yang terekpresikan dalam bagian dari amalan-amalan ibadah haji. Banyak tentunya pesan-pesan   Ilahiyah yang lain yang dapat disadap dan dikaji dari rangkaian amalan ibadah haji, kemudian kita jadikan acuan dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Demikian tulisan ini semoga ada guna dan manfaatnya amiin.

                                                                 Banyuwangi , tahun  2009
                                                                         P e n u l i s

                                                                 Drs.  Sudono Al-Qudsi ,   M.H.