Kamis, 24 September 2015





KHUBAH IDUL ADHA 2015/1436 H.
24 Septeber 2015  di masjid al mubarok Kel.Kaweron

QURBAN DAN MUSIBAH CRANE DI MASJIDIL HARAM
Oleh :  Drs. H. Sudono Al-Qudsi,  M.H.

Allohu Akbar x 9 , la ilaha illalohu allohu akbar Allohu Akbar walillahil hamd

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُو
Setiap tahun berjuta-juta umat Islam memadati kota Makah, tempat Ka’bah/Masjidil Haram berada. Pada 9 Dzulhijjah kemarin, hampir 3 juta umat Islam berkumpul, wukuf di padang Arafah, sembari mengumandangkan takbir dan tahmid, memuji kebesaran dan kemuliaan Allah Swt.
Selain rasa bahagia karena dapat menunaikan rukun Islam yang ke lima, pastilah saudara-saudara kita, para jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia ini amat berduka, mengingat musibah jatuhnya crane (mesin derek) di lantai tiga Masjidil Haram, dekat pintu As-Salam. Tak seorangpun mengira terjadinya peristiwa kecelakaan yang menewaskan sebanyak 107 jemaah dan 238 orang lainnya menderita luka-luka. Sebanyak 10 orang dari 107 korban meninggal berasal dari Indonesia.
Musibah ini terjadi pada hari Jum’at, 11 September 2015, pk. 17.35 menjelang waktu Maghrib tiba, diawali dengan badai disertai hujan es. Saat ribuan dari jutaan Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk menjalankan ibadah haji. Masjidil Haram biasanya mengalami puncak kepadatan pada Jumat saat Umat Muslim biasa Salat Jumat. Sebagian besar korban tertimpa crane saat melaksanakan thawaf. Di antara mereka ada yang meninggal ketika sedang berdzikir, ada pula yang baru selesai thawaf, sedangkan sebagian yang lain sedang bermunajat kepada Rabbul Alamin.
Dari musibah ini, terdapat beberapa keutamaan jamaah haji yang menjadi korban tertimpa crane di Masjidil Haram. Dan hanya Allah yang mengetahui hikmah di balik musibah ini. Sebagai pelajaran, hikmah dari peristiwa sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw antara lain:
1.  Meninggal di hari Jumat dilindungi Allah dari adzab
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Artinya: “Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau pada malam Jumat melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah (pertanyaan) kubur.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Humaid, Abu Ya’la, dan Al-Baihaqi).
2.  Syahid bagi yang meninggal tertimpa reruntuhan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah).
3.  Meninggal di jalan Allah, yaitu sedang atau akan beribadah haji.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :
مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكُمْ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ. قَالَ: إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيْلٌ. قَالُوْا: فَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فيِ الطَّاعُوْنَ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَالْغَرِيْقُ شَهِيْدٌ
“Siapakah yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau menjawab, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)
4.  Meninggal ketika sedang beramal shalih.
Hudzaifah radhiyallahu anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia mengakhiri hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia mengakhiri hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia mengakhiri hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih).
Maka atas musibah yang menimpa, kita mohon semoga Allah berkenan menerima amalan para korban jatuhnya crane di Masjidil Haram, dan menjadikan mereka sebagai syuhada.
Kita memohon kepada Allah agar merahmati dan mengampuni mereka, serta memberikan kesabaran dan ketenangan kepada sanak keluarga yang mereka  tinggalkan.
Demikian khutbah singkat ini semoga bermanfaat, amiin.

Khutbah kedua

 Allohu Akbar x 7
Alohu Akbar kabiro,walhamdu lillahi kasyiro, wa subhanallohi  bukrota wa ashila, la ilaha illallohu wallohu akbar , allohu akbar walillahilhamd.

الحمد لله – الحمد لله رب العالمين  -   الذي قال فى كتابه الكر يم – ولله علي الناس حج البيت من استطع اليه سبيلا  -  اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له – و اشهد  ان  محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده  -  اللهم صل علي سيد نا محمد -  وعلي اله  واصحا به ومن وله -  ايها الجحاج  -  رحمكم الله  -  اتوا الله -   اتوا الله   حق تقا ته  - ولا تموتن الا وانتم مسلمون – قال تعالي في كتابه الكر يم – ان الله وملائكته يصلون علي النبي يا ايها الذين امنا صلوا عليه وسلموا تسليما -    اللهم صل علي سيد نا محمد -  وعلي اله  واصحا به اجمعين – وعن التابعين – وتابع التابعين وتابعهم باءحسان الي يوم الدين  وارحمنا معهم برحمتك يا ارحم الراحمين –  اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
 اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين و المسلمات - الاْحياء منهم والاْموات - اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ حَجًّا مَبْرُوْرًا ، وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا ، وَذَنْباً مَغْفُوْرًا ، وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً ، وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ ، يَا عَالِمَ مَا فىِ الصُّدُوْرِ اَخْرِجْنَا يَا اَلله مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلىَ النُّوْرِ  - ربنا اغفر لنا ذنوبنا  ولاءخوننا الذين سبون بالائمان  ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين امنوا  ربنا انك رؤف رحيم – ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار – عباد الله – ان الله ياْمر بالعد ل والاءحسان  وئتاء ذي القربي وينهي عن الفخشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون -  فاذكرو الله العطيم يذكركم – واسئلوه من فضله يعطيكم – ولذكر الله اكبر -  والسلا م عليكم ورحمة الله وبركا ته   -    



Jumat, 31 Juli 2015




KEWAJIBAN  MENEPATI  JANJI

Oleh : Drs. H. Sudono Al-Qudsi,  MH.


           يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَوۡفُواْ بِٱلۡعُقُودِۚ       QS. AL Maidah  ayat 1 dinyatakan         :                        Wahai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu ( Al Maidah ayat 1)
          Selain ayat diatas masih banyak   ayat-ayat  tentang akad (perjanjian) antara lain : QS. AL Maidah ayat   102 ,  An Nahl ayat 91 , AL  Isro’ ayat 34, Yunus ayat 101, Al Hajj ayat 5 dan masih banyak lagi. Diriwayatkan bahwa sahabat Nabi saw ,   Ibnu Mas’ud berkata : “jika anda mendengar panggilan Ilahi  ya ayyuha alladzina amanu ,maka siapkanlah dengan baik pendengaranmu, karena sesungguhnya ada kebaikan yang Dia perintahkan  atau keburukan yang Dia  larang.
           Kata “ auufu” pada mulanya berarti :  memberikan sesatu dengan sempurna, dalam arti melebihi kadar yang selebihnya. Pada  waktu ayat ini turun di Mekah, masyarakat mendapatkan kesulitan dalam menetapkan ukuran yang adil karena kurangnya timbangan di kalangan mereka.Biasanya untuk memberi rasa puas menyangkut kesempurnaan timbangan , mereka melebihkan dari kadar yang  dianggap adil dan seimbang
           Kata “ al ‘uqud ‘  adalah jamak ‘aqad’ pada mulanya berarti mengikat sesuatu dengan sesuatu sehingga tidak menjadi bagiannya dan tidak berpisah dengannya,  Seperti akad  jual beli, akad pernikahan dan lainnya.
           Ayat diatas disebut oleh para ulama’ sebagai ayat yang sagat singkat redaksinya, tetapi sangat padat kandungannya. Filosof al-Kindi  pernah diminta untuk menyusun  kalimat singkat yang sarat makna seperti ayat-ayat al-Qur’an tetapi setelah tekun sekian hari menyendiri dan berpikir, dia mengaku tak mampu, bahkan tak seorangpun akan mampu. “aku membuka mushaf al-Qur’an kutemukan surat al-Maidah dan kuperhatikan ternyata ayatnya berbicara tentang kewajiban menepati  perjanjian, melarang melanggarnya.
          Dalam dunia bisnis tidak seorangpun yang tidak meginginkan keuntungan besar, namun ada yang menempuh dengan melalui jalan yang wajar dan ada pula yang asal menguntungkan tanpa melihat resiko di belakangnya   antara lain mengurangi takaran, timbangan, dan ukuran , padahal Alloh telah mengancamnya dalam QS.Al Muthoffifin ayat 1 s/d 3 menyebutkan :
Artinya : kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu  orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain  mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Ayat diatas turun ketika Nabi datang di Madinah dan di madinah  dikenal ada seorang bernama Abu Juhainah , dia memiliki dua timbangan yang berbeda untuk jual beli, maka turunlah ayat tersebut. Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa “KITA BOLEH BERBEDA PENDAPAT  TAPI ADA YANG HARUS  SAMA YAITU MENEPATI JANJI, JIKA IA HILANG MAKA RASA AMAN ANDA AKAN HILANG”.



Minggu, 12 Juli 2015



Kisah  Zahid dan Zulfah
MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ALLOH DIATAS KEPENTINGAN  LAINNYA
Oleh  :  Sudono Al-Qudsi, MH.
     “Jika salah seorang di antara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” HR Muslim.
        Betapa banyak diantara kita yang menampikkan ketetapan yang disampaikan Rasulullah. Kita minum dengan tangan kiri dan bila diingatkan dengan sinis berucap, darimana logikanya bahwa minum dengan tangan kiri itu salah?”. Allah menganugerahkan kita akal dan pikiran yang pada hakikat fungsinya adalah untuk mencerna ayat-ayat Allah, mempertegas keyakinan pada-Nya, namun bukanlah akal tadi digunakan untuk mempertanyakan logika dari ketentuan Rasulullah bahkan mengabaikannya. Sebagaimana surat Al Ahzab ayat 36: “Dan, tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan, barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
         Lewat ayat ini Allah ingin menegaskan bahwa apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya seringkali tidak terjangkau oleh akal kita, namun yakinlah bahwa Allah dan Rasul-Nya selalu menginginkan yang terbaik bagi umatnya. Karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita bahkan dibandingkan dengan kita sendiri. Karenanya keinginan kita tidaklah dapat mendahului keinginan Allah, dan jika Allah dan Rasul-Nya sudah menetapkan sesuatu, tidak patut kita mengedepankan keinginan kita dengan menolaknya.
        Memetik iktibar dari kisah Zahid dan Zulfah, sebagai cermin bagi kita bagaimana mereka mengesampingkan logika, ikhlas melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya. Pada zaman Rasulullah hiduplah seorang pemuda bujangan yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun, tinggal di Suffah masjid Madinah. Kemudian Rasulullah menyuruhnya untuk segera menikah. Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”. Rasulullah meminta sahabat untuk membuat surat lamaran kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita.
           Ketika surat itu sampai ditangan Said ayah Zulfah, ia terperanjat karena tradisi bangsa Arab perkawinan selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya. Ia memanggil Zulfah dan bertanya, “Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya ?, Terkejut Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah!” jadi bagaimana mungkin aku menerima dia, dan Zulfah merasa dirinya terhina. Said pun berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri kan, bukan aku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.” Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah tergetar dan seketika menghentikan tangisnya, lalu bertanya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasul?”. Ayahnya pun berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”Seketika Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Terlintas dibenak Zulfah firman Allah: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An Nuur, 24 : 51)
     Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa rasanya seperti mimpi dan sesampai di masjid ia bersujud syukur. Namun Zahid tidak mempunyai sedikit pun harta maka Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bin Auf. Alhamdulillah Zahidpun mendapatkan uang yang cukup banyak, iapun pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam. Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”. Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.
        Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan ku belikan kuda yang terbagus.” Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”. Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”.  Lalu Zahid menyitir ayat di surat At Taubah sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah, 9 : 24)
      Zahid ikut peperangan namun akhirnya Zahid mati syahid di jalan Allah. Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik dari pada Zulfah.” Lalu Rasulullah membacakan Ayat; “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Ali ‘Imran, 3 : 169-170)
     “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah, 2 : 154)
       Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”Subhaanallah bagaimana Zahid dan Zulfah memperlihatkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya lebih utama dari keinginan mereka. Mereka mampu mengeyampingkan logika demi menjemput keridhaan Allah.Pertanyaannya sudahkah kita mengutamakan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya? Semoga kita termasuk orang-orang yang “Sami’naa wa atho’naa, kami dengar dan kami ta’at!”. Insya Allah siap!
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (an-Naazi’aat: 37-39)
            Demikian semoga kisah ini ada manfaatnya, amiin.


Kamis, 02 Juli 2015




FADHILAH  ILMU

Oleh.  Drs. H. Sudono, MH.

          Manusia harus terus menerus belajar tanpa mengenal usia agar hidupnya berguna dan dengan bekal imu  ia dapat beribadah dengan benar untuk mencapai ridho Alloh SWT.

عن ابرهيم  عن  علقمة عن  عبد الله  ابن مسعود  رضي الله تعالي عنهم  قال -  قال  رسو ل الله صلي الله عليه وسلم -  من تعلم  بابا  من العلم  ينتفع به  في اخرته  ودنياه  اعطاه الله  خيرا  له من عمرالد نيا  سبعة الاف  سنة صيام نهارها  وقيام ليالها مقبولا  غير مردود -  و قال النبي صلي الله عليه وسلم  - انا مدينة العلم  وعلي بابها -   

          Dari Ibrahim, dari Alqomah dari Abdillah Ibnu Mas’ud  semoga Allah meridhoi mereka , dia berkata : Rasululloh SAW. bersabda : barang siapa yang mengajarkan  satu bab dari ilmu dan ia memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan dunia dan akhiratnya , maka Alloh akan memberikan kebaikan baginya itu sama hidupnya menjadi  umur tujuh ribu tahun siang harinya untuk berpuasa dan malamnya untuk beribadah  yang diterima bukan ibadah yang ditolak dan kemudian Rosululloh SAW. bersabda   : Saya adalah gudangnya ilmu , sedangkan sahabat Ali adalah pintunya ilmu.
          Setelah  kaum KHAWARIJ mendengar hadis diatas, seketika itu mereka iri kepada Ali Bin Abi Tholib ra. dan ada 10 orang yang mencoba bertanya kepada Ali dengan maksud ingin menjajaki kemampuan Ali.:  dengan pertanyaan yang sama , lalu terjadilah dialog berikut ini :

     يا علي   العلم  افضل ام المال   Wahai Ali :  lebih utama mana  ilmu atau harta ?
1.    Lebih utama ilmu sebab ilmu itu warisan dari para Nabi, sedangkan harta  itu warisan dari qorun dan fir’aun.
2.   Lebih utama ilmu, karena ilmu itu akan menjagamu, sedangkan harta  kamu yang harus menjaganya.
3.   Orang yang punya ilmu banyak saudaranya, tetapi orang banyak harta banyak yang memusuhi, benci dan irihari.
4. Ilmu  ditashorufkan pasti bertambah, sedangkan harta ditashorufkan akan berkurang.
5.   Orang yang banyak  ilmu akan dihormati dengan panggilan yang mulya, yang agung  , sedangkan orang punya harta akan dipanggil dengan sebutan si bakhil, si dermawan.
6.     Ilmu membuat pemiliknya tenang, tentram, sedangkan banyak harta membuat pemiliknya galau, was-was , kawatir.
7.   Orang berilmu akan memberikan syafaat kepada orang lain, sedangkan orang punya harta  pasti di akhirat akan di hisab.
8.  Ilmu tidak akan rusak dan tidak akan habis, sedangkan harta akan rusak dan habis.
9.  Ilmu menjadikanj npemiliknya terterangi hatinya, sedangkan harta menjadikan pemiliknya keras hatinya, gelap hatinya.
10.Orang berilmu sering bersifat ubudiyah ( menghamba), sedangkan orang berharta sering bersifat seperti Tuhan.
       Semoga Tulisan ini ada manfaatnya , amiin.   Kaweron       April 2014





Sabtu, 27 Juni 2015



SEMUA  JADI SAKSI  DAN MENDOAKAN ORANG YANG BANGUN TIDUR DI BULAN ROMADHON



وعن عمر بن الحطا ب رضي الله تعالي عنه  عن النبي عليه الصلا ة والسلام  انه قال  اذا استيقظ  احد كم  من نومه في شهر رمضا ن  وتحرك في فراشه  و تقلب من جانب الي جانب يقول له ملك  قم با رك الله  فيك ورحمك  الله  فاءذا قام بنية الصلاة  يدعو له  الفراش ويقول اللهم اعطه الفرش  المرفوعة  واذا لبس ثوبه  يدعو له  ا لثوب ويقول اللهم  اعطه من حلل الجنة  واذا لبس نعليه  تدعو له   نعلاه  وتقولان  اللهم ثبت  قدميه  علي الصراط   واذا  تنا ول  الاناء يدعو له  الاناء ويقول اللهم اعطه من اكواب الجنة  واذا توظء يدعو له  الماء ويقول اللهم طهره  من الذنوب  والخطايا  واذا قام الي الصلاة  يدعو له  البيت  ويقول  اللهم  وسع قبره  ونور حفرته وزد رحمته  وينظر الله تعالي اليه  بالرحمة  ويقول عند الدعاء  يا عبدي  منك  الدعاء ومنا الاجابة  ومنك السؤال  ومنا النوال  ومنك الاستغفار  ومنا الغفران                                                                              

Dari Umar bin Khothob  rodliyallohu ta’ala anhu, dari nabi alaihissholatu wassalamu, beliau bersabda : Apabila diantara kamu bangun tidur di bulan romadlon , sampai  tempat tidur pun bergerak , posisi dalam tidur pun miring kesana kemari ,maka para Malaikat  berkata kepadanya :  Bangunlah, semoga Alloh memberi  berkah dan rahmatNya kepadamu , lalu pada saat kamu bangun tidur dengan niat melaksanakan sholat maka tempat tidurpun mendoakan kepadanya  :  ya Alloh berilah kepadanya tempat tidur yang tinggi (terhormat), ketika pakaian dipakai maka pakaiannya pun berdoa :  ya Alloh  berilah dia pakaian emas sutra dari surga.  Lalu bila sandalnya dipakai  maka kedua sandalnya pun berdo’a :   ya Alloh  tetapkanlah kedua kakinya mampu berjalan lancar diatas shirothol mustaqim. Lalu kalau dia lagi mengambil wadah ( tempat  minuman , makanan  ) maka wadahnya akan berdoa : ya Alloh berilah dia wadah dari surga.  Jika dia lagi  berwudlu maka airnya pun berdoa :  ya Alloh sucikanlah dia dari segala dosa maupun kesalahannya.  Lalu jika dia sudah berdiri untuk melaksanakan sholat  maka rumahnya pun berdoa :  ya Alloh lapangkan dan terangilah liang   kuburnya dan berilah tambahan rahmat padanya. Kemudian Alloh melihat dia dengan penuh kasih sayang dan Alloh menyatakan terhadap yang berdo’a itu   : wahai hambaku  , kamulah yang berdo’a dan Aku yang mengabulkannya. Kamulah yang meminta  dan Akulah yang memberi dan kamulah yang minta ampun dan Akulah pemberi ampun.( Durrotun Nashihin , hal.8 )

Senin, 08 Juni 2015

                         UKURAN MUT’AH


Dalam kitab Ahkamusy Syakhshiyyah, Moh. Abu Zahrah, Darl Fikr Al Arabi hal. 334.
انه اذا كان الطلاق بعد الدخول بغير رضاها تكون لها متعة هي نفقة سنة بعد  انتهاء العدة
                          Apabila suami menceraikan istrnya  sesudah dhukhul tanpa ridhonya, maka wanita bekas istrinya itu berhak menerima mut’ah yaitu nafkah selama satu tahun sesudah habisnya masa iddah.


Minggu, 10 Mei 2015



TENTANG HARTA BERSAMA HARUS DIRINCI

              Yurisprudensi nomor 90 K/AG/2003 tanggal 11 nopember 2004 dalam buku Yurisprudensi MA.RI. tahun 2006 hal.384.

1.  Harta bersama harus dirinci antara harta yang diperoleh selama perkawinan dan harta milik pribadi ( harta bawaan, hadiah , hibah, warisan ).
2.    Obyek sengketa yang tidak dapat dibuktikan harus dinyatakan ditolak, sementara obyek sengketa yang obscuur libel harus dinyatakan tidak dapat diterima.