TERGELINCIR
Oleh : Sudono Al-Qudsi
Nu’man bin Tsabit atau yang biasa
dikenal dengan nama Imam Abu Hanifah pernah
berjalan berlawanan arah dengan seorang budak kecil yang berjalan mengenakan
terompet kayu.
Sang
imam berkata “ hati-hati nak dengan terompet kayumu, jangan sampai kamu
tergelincir. Budak inipun tersenyum dan mengucapkan terimakash atas perhatian sang
Imam Abu Hanifah.
Bolehkan
saya tahu namamu tuan ? tanya si budak
kecil tadi. Nu’man namaku, jawab sang
imam tadi , oh jadi, tuankah yang selama
ini terkenal dengan gelar Al Iman, Al A’dhom ( imam agung itu ? ) Tanya si
budak.
Bukan
aku yang memberi gelar itu, masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi
gelar itu kepadaku, jawab si imam.
Wahai Imam berhati-hatilah dengan
gelarmu, jangan sampai tuan tergelincir
ke neraka karena gelar itu. Terompah kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku
di dunia ini , tetapi gelarmu itu dapat menjerumuskan kamu ke dalam api yang
kekal JIKA KESOMBONGAN DAN KEANGKUHAN
menyertainya…
Ulama
besar yang di ikuti banyak ummat itupun tersungkur menangis menerima nasehat “
tajam” dari seorang budak kecil. Imam Abu
Hanifah bersyukur , siapa sangka peringatan yang begitu dalam maknanya ,
justru datang dari lidah seorang anak kecil.
Betapa
banyak manusia yang tertipu karena PANGKAT, tertipu karena KEDUDUKAN, tertipu
karena GELAR, atau TITEL, tertipu karena POSISI yang dimuliakan ,
tertipu karena STATUS SOSIAL, tertipu karena sebutan gelar haji/hajjah, ustadz, al fadlil, syeh, doctor
dan sebagainya.
Marilah kita berhati-hati dan terus
saling mengingatkan agar jangan sampai kita
tergelincir. Jangan sampai kita menjadi angkuh dan sombong karena gelar,
pangkat, status social dan kebesaran di dunia .
Andaikan
sepasang tangan yang menarik kita tatkala terjatuh lebih kita butuhkan
dari seribu tangan yang menyambut kita
tatkala tiba di puncak kejayaan.
Mari
kita hubungi sahabat-sahabat kita …. Karena sahabat yang baik adalah pelita di
kegelapan .. kadang cahayanya baru terasa ketika dunia terasa gelap.
Ketahuilah
Tdak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun
hanya sebesar biji sawi (HR Muslim ).
Undur
ma qol wala tandur manqol ( perhatikan apa yang diucapkan dan jangan memandang
siapa yang berbicara ).
Demikian
semoga tulisan ini bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar